April 2026 – Transformasi sektor energi hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang kapasitas pembangkit atau perluasan jaringan. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana data dimanfaatkan untuk menghasilkan keputusan yang presisi, efisien, dan berkelanjutan. Inilah benang merah yang mengemuka dalam kegiatan GLIS Campus Connect – Seminar Geography Series 2 yang diselenggarakan bersama ITPLN pada 07 April 2026, mengangkat tema “Dari Data ke Daya: Optimalisasi Energi Melalui Teknologi Geospatial.”

Seminar ini mempertemukan perspektif regulator, peneliti, praktisi industri, dan akademisi dalam satu ruang diskusi yang konstruktif. Kehadiran Himmel Sihombing selaku General Manager PLN UIT JBB memberikan gambaran strategis mengenai bagaimana implementasi teknologi geospasial mendukung perencanaan dan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan. Dalam paparannya, disampaikan bahwa akurasi data spasial kini menjadi fondasi penting dalam menentukan jalur transmisi, perencanaan gardu, hingga optimalisasi aset jaringan secara menyeluruh.

Lebih jauh, transformasi tersebut tidak berdiri sendiri. Visi menuju Net Zero Emission menuntut integrasi antara data, efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence dan pengembangan gardu transmisi otonom. Digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis dalam menjaga keandalan sistem sekaligus mempercepat transisi energi.

Dari sisi riset dan inovasi, Bono Pranoto sebagai Senior Researcher dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya sinergi antara penelitian dan implementasi lapangan. Menurutnya, teknologi geospasial memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan, mulai dari analisis potensi lokasi, pemetaan risiko, hingga monitoring berbasis data. Kolaborasi antara lembaga riset dan industri menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi dampak nyata.

Sementara itu, Sondang Sihombing, Engineer PT GPS Lands Indosolutions, membagikan pengalaman praktis mengenai bagaimana solusi geospasial diterapkan untuk meningkatkan efisiensi perencanaan dan pengelolaan infrastruktur energi. Ia menekankan bahwa kekuatan utama teknologi ini bukan hanya pada perangkat keras atau perangkat lunaknya, melainkan pada kemampuannya mengintegrasikan berbagai sumber data menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti. Dengan pendekatan berbasis data spasial, proses pengambilan keputusan menjadi lebih terukur dan transparan.

Sambutan Rektor ITPLN Bapak Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa MK, MT turut memperkuat semangat kolaborasi dalam kegiatan ini. Beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar dan berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan guna mempererat hubungan antara akademisi, praktisi industri, dan lembaga riset negara. Sinergi tiga elemen ini dinilai krusial dalam membangun ekosistem inovasi yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Melalui diskusi yang berlangsung, satu hal menjadi jelas: teknologi geospasial bukan lagi sekadar alat pemetaan. Ia telah berkembang menjadi instrumen strategis dalam mendukung perencanaan energi yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Dari tahap perencanaan hingga pengawasan, dari pengembangan jaringan hingga integrasi Energi Baru Terbarukan, seluruhnya membutuhkan data yang presisi dan sistem yang terintegrasi.

Seminar ini menjadi pengingat bahwa masa depan energi tidak hanya ditentukan oleh sumber dayanya, tetapi oleh kualitas data dan kemampuan kita mengolahnya menjadi daya—menjadi keputusan yang tepat, pada waktu yang tepat. Ketika data spasial dimanfaatkan secara optimal, transformasi energi bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju sistem kelistrikan yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

April 2026 – Dalam industri pertambangan batubara, risiko pemanasan sendiri (self-heating) pada tumpukan stockpile bukan sekadar isu teknis, tetapi persoalan keselamatan dan keberlanjutan operasional. Batubara yang tersimpan dalam volume besar dapat mengalami oksidasi alami. Jika tidak terpantau dengan baik, proses ini berpotensi meningkatkan suhu secara perlahan hingga melewati ambang batas aman dan memicu risiko kebakaran, terutama sebelum proses distribusi menggunakan kapal tongkang.

Ambang suhu yang diperbolehkan dalam banyak prosedur operasional berada di bawah 50°C. Melewati batas tersebut bukan hanya meningkatkan potensi insiden, tetapi juga berisiko menimbulkan gangguan logistik, klaim kualitas, hingga kerugian finansial. Karena itu, pendekatan monitoring berbasis teknologi menjadi semakin relevan.

Pada 01–04 April 2026, dilakukan Proof of Concept (POC) onsite menggunakan sistem drone thermal untuk memetakan dan menganalisis suhu permukaan stockpile batubara secara menyeluruh. Platform yang digunakan adalah DJI Matrice 4T dengan dukungan pengolahan data melalui DJI Thermal dan DJI Terra.

Meskipun hari pertama pelaksanaan diguyur hujan, proses akuisisi data tetap berjalan dengan baik. Kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam operasional drone, terutama dalam menjaga stabilitas penerbangan dan kualitas data thermal. Namun, dengan perencanaan misi yang tepat—mulai dari pengaturan tinggi terbang, overlap citra, hingga kalibrasi sensor—data tetap dapat diperoleh secara konsisten dan dapat dianalisis lebih lanjut.

Pendekatan thermal imaging memungkinkan identifikasi variasi suhu secara visual dan kuantitatif. Berbeda dengan pengukuran manual menggunakan thermogun yang bersifat titik-per-titik, drone thermal mampu memetakan area luas dalam waktu relatif singkat, menghasilkan gambaran distribusi panas yang lebih komprehensif. Ini sangat penting pada stockpile, karena titik panas (hotspot) seringkali tidak terlihat dari permukaan dan tersebar tidak merata.

Dari hasil pemetaan awal, ditemukan beberapa titik dan area dengan rentang suhu antara 40°C hingga 60°C. Area yang mendekati dan melewati 50°C menjadi perhatian khusus karena berada di atas batas aman yang direkomendasikan sebelum distribusi. Data thermal yang telah diproses di DJI Terra kemudian dianalisis untuk menentukan lokasi presisi hotspot, termasuk estimasi luas area terdampak.

Insight utama dari POC ini bukan sekadar menemukan area panas, tetapi menunjukkan bagaimana data spasial dapat mendukung tindakan preventif secara cepat dan terarah. Berdasarkan temuan tersebut, tim operasional melakukan treatment menggunakan cairan khusus untuk menurunkan suhu pada area yang teridentifikasi.

Beberapa waktu setelah treatment dilakukan, pengambilan data ulang dilaksanakan dengan prosedur yang sama untuk memastikan konsistensi pembacaan. Hasilnya menunjukkan penurunan suhu yang signifikan dan seluruh area kembali berada dalam rentang aman di bawah 50°C. Validasi berbasis data ini menjadi bukti bahwa pendekatan monitoring thermal tidak hanya berfungsi sebagai alat deteksi, tetapi juga sebagai instrumen evaluasi efektivitas tindakan korektif.

Dari perspektif manajemen risiko, pendekatan ini mencerminkan pergeseran dari sistem reaktif menjadi preventif. Alih-alih menunggu indikasi visual seperti asap atau bau terbakar, sistem monitoring thermal memungkinkan identifikasi dini sebelum kondisi berkembang menjadi insiden. Dalam konteks distribusi menggunakan kapal tongkang, langkah preventif ini sangat krusial karena risiko kebakaran di atas kapal dapat berdampak jauh lebih besar, baik dari sisi keselamatan maupun operasional.

Selain itu, penggunaan drone thermal memberikan efisiensi signifikan. Area stockpile yang luas dan memiliki kontur tidak rata seringkali menyulitkan inspeksi manual. Dengan drone, proses pemantauan dapat dilakukan lebih cepat, lebih aman, dan tanpa harus menempatkan personel di area berisiko tinggi. Data yang dihasilkan pun terdokumentasi dengan baik dan dapat dijadikan arsip historis untuk analisis tren suhu dari waktu ke waktu.

POC ini menunjukkan bahwa integrasi antara perangkat keras thermal dan software pemrosesan spasial bukan hanya solusi teknologi, tetapi bagian dari strategi pengelolaan risiko yang lebih matang di industri pertambangan. Ketika data digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, tindakan yang diambil menjadi lebih presisi, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam jangka panjang, monitoring suhu stockpile berbasis drone thermal berpotensi menjadi standar baru dalam operasional tambang batubara. Dengan frekuensi pemantauan yang terjadwal dan dokumentasi yang sistematis, perusahaan dapat membangun sistem early warning yang lebih kuat, menjaga kualitas material, serta memastikan distribusi berjalan dalam kondisi aman.

Teknologi pada akhirnya bukan sekadar alat bantu, melainkan enabler untuk menciptakan operasi yang lebih aman, efisien, dan berbasis data. Dan dalam konteks pengelolaan stockpile batubara, kemampuan mendeteksi dan menangani hotspot sebelum melewati batas kritis adalah investasi nyata dalam keselamatan dan keberlanjutan operasional.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

Januari 2026 — Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan akurasi dalam manajemen tambang, teknologi Continuously Operating Reference Station (CORS) telah menjadi infrastruktur vital. Memasuki kuartal pertama tahun 2026, implementasi CORS di sektor pertambangan kini wajib merujuk pada SNI 7964:2022, standar nasional yang mengatur spesifikasi teknis pembangunan infrastruktur ini untuk menjamin presisi tinggi dan keberlanjutan data.

Pembangunan CORS di area konsesi tambang bukan sekadar memasang antena GNSS, melainkan sebuah proses geodetik yang presisi untuk mendukung kegiatan survei, monitoring lereng (PIT), hingga navigasi alat berat otonom.

Implementasi Berdasarkan SNI 7964:2022
Berdasarkan regulasi terbaru, pembangunan CORS di segmen pertambangan harus memenuhi beberapa kriteria teknis utama:

Stabilitas Monumen: Mengingat dinamika tanah di area tambang, monumen harus dibangun di atas batuan stabil (bedrock) atau dengan konstruksi beton bertulang yang masuk jauh ke dalam tanah untuk menghindari efek local displacement.

Spesifikasi Perangkat: Penggunaan receiver GNSS multi-frequency dan multi-constellation (GPS, GLONASS, Galileo, BeiDou) menjadi standar wajib untuk memastikan ketersediaan sinyal di medan tambang yang seringkali memiliki tantangan multipath.

Konektivitas Data: Transmisi data harus stabil menggunakan protokol NTRIP untuk mendukung koreksi Real-Time Kinematic (RTK) bagi tim survei di lapangan.

Integrasi dengan Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI)
Salah satu aspek krusial dalam pembangunan ini adalah integrasi dengan SRGI. Sesuai dengan Peraturan Badan Informasi Geospasial, setiap koordinat yang dihasilkan di wilayah hukum Indonesia harus mengacu pada satu referensi tunggal.

Dengan mengintegrasikan CORS tambang ke dalam jaringan SRGI, perusahaan memastikan bahwa seluruh data pemetaan—baik dari Drone LiDAR maupun survei terestris—memiliki konsistensi spasial dengan peta nasional. Hal ini mencegah terjadinya overlap konsesi dan mempermudah pelaporan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) kepada kementerian terkait.

Peran Strategis Badan Informasi Geospasial (BIG)
Untuk menjamin bahwa infrastruktur yang dibangun memenuhi standar legalitas dan teknis, proses pembangunan ini melibatkan dua tahap krusial yang diawasi langsung oleh Badan Informasi Geospasial (BIG):

Supervisi Pembangunan: Dilakukan sejak tahap pemilihan lokasi (site selection) untuk memastikan bahwa lokasi tersebut bebas dari gangguan elektromagnetik dan memiliki obstruksi minimal.

Kegiatan Commissioning: Merupakan uji fungsi akhir sebelum stasiun dioperasikan secara resmi. Tim ahli akan memvalidasi kualitas data (SN Ratio, Multipath, Data Gaps) serta memastikan koordinat stasiun telah terikat secara benar ke Jaring Kontrol Geodesi Nasional.

Pentingnya Standardisasi: Tanpa commissioning dan supervisi dari BIG, data dari stasiun CORS tersebut tidak dapat diakreditasi sebagai data resmi dalam sistem informasi geospasial nasional, yang berisiko pada validitas hukum hasil pemetaan tambang.

Manfaat bagi Operasional Pertambangan
Di awal tahun 2026 ini, integrasi teknologi Drone LiDAR dengan koreksi dari stasiun CORS yang terstandarisasi memberikan lompatan produktivitas yang signifikan:

Pemetaan Presisi: Akurasi posisi horizontal dan vertikal mencapai level sub-desimeter (di bawah 10 cm).

Monitoring Real-Time: Deteksi dini pergerakan tanah atau potensi longsor pada dinding tambang secara kontinu 24/7.

Efisiensi Biaya: Mengurangi kebutuhan pemasangan titik kontrol tanah (GCP) yang memakan waktu dan berisiko tinggi di lapangan.

Pembangunan CORS yang sesuai dengan SNI 7964:2022 bukan lagi sekadar pilihan teknis, melainkan investasi strategis bagi perusahaan tambang untuk mencapai tata kelola pertambangan yang baik (Good Mining Practice) dan terintegrasi secara nasional.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

Mei 26 – Teknologi drone saat ini sudah menjadi bagian penting dalam dunia survey dan pemetaan di Indonesia. Mulai dari tambang batubara, perkebunan kelapa sawit, hingga proyek konstruksi skala besar, penggunaan drone bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi kebutuhan operasional.

Namun di lapangan, masih banyak perusahaan yang bingung menentukan pilihan:
lebih cocok menggunakan drone fotogrametri atau drone LiDAR?

Keduanya memang sama-sama digunakan untuk pemetaan udara, tetapi memiliki pendekatan, hasil data, hingga nilai investasi yang berbeda. Pemilihan teknologi yang kurang tepat sering kali membuat proses survey menjadi tidak efisien, data kurang optimal, atau biaya operasional justru membengkak di kemudian hari.

Karena itu, memahami perbedaan antara drone fotogrametri dan drone LiDAR menjadi sangat penting sebelum memutuskan investasi.

Apa Itu Drone Fotogrametri?

Secara sederhana, fotogrametri adalah metode pemetaan menggunakan kamera untuk mengambil banyak foto udara yang kemudian diproses menjadi:

Teknologi ini menjadi sangat populer karena:

Salah satu contoh drone yang saat ini banyak digunakan adalah DJI Matrice 4E. Drone ini dirancang untuk kebutuhan mapping profesional dengan efisiensi akuisisi data yang tinggi dan workflow yang cukup praktis untuk operasional harian.

Untuk area open pit tambang, stockpile, cut and fill, maupun progress konstruksi, pendekatan fotogrametri sering kali sudah lebih dari cukup.

Kelebihan Drone Fotogrametri

Di sektor tambang dan konstruksi, drone fotogrametri memiliki beberapa keunggulan utama:

1. Investasi Lebih Terjangkau

Untuk memulai workflow drone mapping fotogrametri, estimasi investasi umumnya berada di kisaran:

Karena itu, teknologi ini menjadi pilihan awal banyak perusahaan yang baru mulai membangun workflow drone mapping internal.

2. Visual Data Sangat Baik

Hasil orthophoto dari fotogrametri sangat detail dan mudah dipahami untuk kebutuhan:

3. Cocok untuk Area Terbuka

Pada area seperti:

hasil pemetaan fotogrametri biasanya sudah sangat optimal.

Keterbatasan Fotogrametri di Area Vegetasi

Meskipun sangat efektif di area terbuka, fotogrametri memiliki keterbatasan utama:
kamera hanya menangkap permukaan yang terlihat dari atas.

Artinya, pada area:

permukaan tanah asli sering kali tidak terlihat.

Akibatnya:

Inilah alasan mengapa teknologi LiDAR mulai menjadi standar baru pada banyak proyek pemetaan vegetasi dan tambang skala besar.

Apa Itu Drone LiDAR?

Berbeda dengan fotogrametri yang menggunakan foto, LiDAR bekerja dengan menembakkan ribuan hingga jutaan laser ke permukaan bumi untuk menghasilkan point cloud 3D.

Keunggulan utamanya adalah kemampuan laser untuk menembus celah vegetasi dan menangkap permukaan tanah di bawah pohon.

Salah satu kombinasi yang saat ini mulai banyak digunakan di Indonesia adalah:

Kombinasi ini dirancang untuk kebutuhan mapping presisi tinggi dengan cakupan area yang luas dan workflow yang lebih cepat.

Kenapa LiDAR Sangat Menarik untuk Tambang dan Plantation?

Di sektor pertambangan dan perkebunan, tantangan terbesar biasanya bukan sekadar luas area, tetapi kondisi lapangan.

Contohnya:

Di kondisi seperti ini, LiDAR memberikan keuntungan yang sangat besar.

1. Mampu Menangkap Ground di Area Vegetasi

Untuk area perkebunan sawit atau hutan tambang reklamasi, LiDAR mampu menghasilkan model terrain yang jauh lebih akurat dibanding fotogrametri.

Ini sangat penting untuk:

2. Workflow Lebih Cepat untuk Area Luas

Pada beberapa kasus, LiDAR mampu mengurangi kebutuhan ground survey secara signifikan.

Terutama pada:

3. Data Lebih Konsisten

Karena berbasis laser aktif, LiDAR tidak terlalu bergantung pada pencahayaan seperti kamera biasa.

Hal ini membuat kualitas data lebih stabil pada kondisi tertentu.

Berapa Estimasi Investasi Drone LiDAR?

Inilah bagian yang sering menjadi pertimbangan utama banyak perusahaan.

Untuk sistem drone LiDAR profesional seperti:

Sekilas memang terlihat jauh lebih mahal dibanding fotogrametri.

Namun pada praktiknya, banyak perusahaan tambang mulai melihat LiDAR bukan sekadar biaya alat, tetapi investasi efisiensi jangka panjang.

Karena dengan workflow yang tepat, LiDAR dapat membantu:

Jadi, Mana yang Lebih Tepat?

Jawabannya sebenarnya tergantung kondisi lapangan dan tujuan pekerjaan.

Jika area dominan terbuka:

seperti:

maka drone fotogrametri seperti DJI Matrice 4E biasanya sudah sangat efektif dan ekonomis.

Namun jika pekerjaan berada di:

maka drone LiDAR menjadi pilihan yang jauh lebih relevan.

Banyak perusahaan saat ini bahkan mulai menggunakan kombinasi keduanya:

Studi Kasus yang Mulai Banyak Terjadi di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan drone LiDAR mulai meningkat di Indonesia, terutama pada:

Sementara itu, drone fotogrametri tetap menjadi pilihan utama untuk:

Menariknya, banyak perusahaan yang awalnya hanya menggunakan drone kamera biasa mulai beralih ke LiDAR setelah menyadari keterbatasan data pada area vegetasi.

Dan tren ini kemungkinan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan data geospasial presisi tinggi di berbagai industri.

Masa Depan Survey Pemetaan Akan Mengarah ke Integrasi Data

Dunia survey dan mapping saat ini tidak lagi berbicara soal memilih satu teknologi terbaik. Yang mulai menjadi fokus adalah bagaimana mengintegrasikan berbagai sumber data untuk menghasilkan workflow yang lebih cepat dan akurat.

Drone fotogrametri dan LiDAR bukan saling menggantikan, tetapi saling melengkapi.

Karena pada akhirnya, teknologi terbaik bukan yang paling mahal — melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan.al dan berkelanjutan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

Mei 26 – Beberapa hari terakhir, sejumlah pengguna GNSS dan drone mapping di Indonesia mulai merasakan hal yang tidak biasa saat melakukan pengukuran di lapangan. Pada jam-jam tertentu, terutama sekitar pukul 12.00 hingga 16.00 WIB, koneksi RTK menjadi lebih sulit mendapatkan status fixed, koreksi terasa terlambat, bahkan beberapa perangkat menampilkan peringatan terkait gangguan ionosfer.

Fenomena ini cukup banyak dilaporkan di wilayah Kalimantan, termasuk area Muara Teweh dan sekitarnya. Bagi sebagian orang mungkin kondisi ini terlihat seperti gangguan sinyal biasa. Namun bagi praktisi survey, pemetaan, maupun operasional drone, kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap kualitas data dan efisiensi pekerjaan di lapangan.

Di tengah meningkatnya ketergantungan industri terhadap data geospasial presisi tinggi, fenomena ionospheric scintillation kembali menjadi pengingat bahwa akurasi GNSS tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas receiver, tetapi juga kondisi atmosfer di atas bumi.

Apa Itu Ionospheric Scintillation?

Secara sederhana, ionospheric scintillation adalah gangguan pada lapisan ionosfer akibat meningkatnya aktivitas matahari. Ketika aktivitas matahari meningkat, partikel bermuatan di atmosfer bumi ikut berubah dan menyebabkan sinyal satelit GNSS mengalami gangguan sebelum diterima oleh receiver di permukaan.

Dampaknya bisa berupa:

Pada beberapa perangkat drone yang menggunakan RTK, pengguna bahkan menerima notifikasi seperti:

“Ionospheric scintillation detected. RTK positioning performance affected. Fly with caution.”

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa gangguan ionosfer memang sedang terjadi dan dapat memengaruhi performa positioning secara real-time.

Mengapa Fenomena Ini Penting untuk Dunia Survey dan Mapping?

Dalam pekerjaan survey modern, kestabilan positioning menjadi hal yang sangat krusial. Terutama pada sektor seperti:

Banyak pekerjaan saat ini bergantung pada RTK real-time untuk mempercepat workflow di lapangan. Ketika receiver kehilangan fix beberapa menit saja, dampaknya bisa cukup besar:

Di sektor tambang misalnya, inkonsistensi koordinat dapat memengaruhi:

Karena itu, fenomena seperti space weather tidak lagi bisa dianggap sebagai isu teknis yang jauh dari pekerjaan sehari-hari. Dampaknya kini benar-benar terasa di lapangan.

Kenapa Tidak Semua Receiver Bereaksi Sama?

Ini menjadi salah satu hal yang mulai banyak diperhatikan pengguna GNSS profesional.

Pada kondisi ionosfer normal, sebagian besar receiver mungkin masih mampu menghasilkan positioning yang terlihat serupa. Namun ketika gangguan atmosfer meningkat, kualitas engine GNSS dan teknologi mitigasi mulai menunjukkan perbedaan nyata.

Receiver dengan kemampuan mitigasi ionosfer yang lebih baik biasanya mampu:

Di sinilah teknologi seperti Trimble IonoGuard™ menjadi relevan.

Trimble IonoGuard™ dan Mitigasi Gangguan Ionosfer

Trimble mengembangkan teknologi IonoGuard™ untuk membantu receiver tetap bekerja lebih stabil pada kondisi ionosfer yang terganggu.

Teknologi ini digunakan pada beberapa perangkat seperti:

Secara teknis, teknologi ini dirancang untuk membantu receiver:

Bagi pengguna di sektor pertambangan dan industri berat, kemampuan seperti ini menjadi semakin penting karena operasional sering dilakukan pada kondisi lapangan yang dinamis dan tidak selalu ideal.

Terlebih lagi, tren aktivitas matahari global memang sedang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir seiring mendekati puncak siklus matahari (solar cycle peak). Artinya, potensi gangguan ionosfer kemungkinan akan lebih sering terjadi dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Mengapa Pengguna Drone Mapping Juga Perlu Waspada?

Bukan hanya pengguna GNSS survey yang terdampak. Pengguna drone mapping RTK juga mulai merasakan efek yang cukup signifikan.

Ketika positioning drone terganggu:

Untuk pekerjaan seperti:

kestabilan RTK menjadi bagian penting dari keseluruhan workflow.

Karena itu, monitoring kondisi space weather mulai menjadi hal yang layak dipertimbangkan sebelum melakukan akuisisi data skala besar.

Hal yang Sebaiknya Dilakukan Saat Aktivitas Ionosfer Tinggi

Bagi pengguna GNSS dan drone mapping, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu meminimalkan risiko gangguan positioning:

Karena pada akhirnya, kualitas survey tidak hanya bergantung pada metode pengukuran, tetapi juga bagaimana pengguna memahami kondisi lingkungan yang memengaruhi data tersebut.

Masa Depan Survey Presisi Tidak Lagi Hanya Soal Akurasi

Perkembangan teknologi GNSS saat ini bergerak sangat cepat. Namun seiring meningkatnya kebutuhan data presisi tinggi, tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks.

Fenomena seperti ionospheric scintillation menunjukkan bahwa dunia survey modern tidak hanya berbicara tentang alat yang canggih, tetapi juga kemampuan sistem dalam menjaga kualitas data pada kondisi nyata di lapangan.

Dan dalam banyak kasus, hal yang paling penting bukan hanya seberapa presisi koordinat yang dihasilkan — tetapi seberapa besar data tersebut dapat dipercaya untuk mendukung pengambilan keputusan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

Mei 26 – Di atas kertas, perhitungan volume di tambang terlihat sederhana. Data diambil, dihitung, lalu dijadikan dasar keputusan mulai dari produksi, penjualan, hingga evaluasi kinerja.

Tapi di lapangan, realitanya jauh dari itu.
Selisih volume 5–10% sering dianggap “wajar”. Bahkan di beberapa site, gap bisa lebih besar dan ironisnya, tidak selalu disadari sejak awal.

Pertanyaannya bukan lagi apakah meleset, tapi:
kenapa hampir selalu meleset?

1. Data Awal yang Tidak Pernah Benar-Benar “Akurat”

Semua perhitungan volume berangkat dari satu hal: data.
Masalahnya, banyak proses pengambilan data masih mengandalkan metode yang punya keterbatasan—baik dari sisi titik ukur, waktu, maupun kondisi lapangan.

Contoh paling umum:

Akibatnya, model yang dihasilkan bukan representasi utuh dari kondisi sebenarnya, melainkan “estimasi terbaik dari data terbatas”.

Dan dari sinilah selisih mulai terbentuk.

2. Perubahan Lapangan Lebih Cepat dari Siklus Survey

Tambang adalah lingkungan yang dinamis.
Material bergerak setiap hari bahkan setiap jam.

Masalahnya:

Artinya, data yang digunakan untuk menghitung volume seringkali sudah “tertinggal”.

Selisih bukan karena salah hitung, tapi karena:

yang dihitung bukan kondisi aktual, melainkan kondisi beberapa hari yang lalu.

3. Perbedaan Metode = Perbedaan Hasil

Tidak semua perhitungan volume dibuat dengan cara yang sama.

Di lapangan, sering terjadi:

Hasilnya?
Dua angka volume yang berbeda untuk objek yang sama.

Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi masalah standar.
Tanpa metode yang seragam, angka volume akan selalu bisa “diperdebatkan”.

4. Faktor Manusia yang Sering Dianggap Sepele

Teknologi bisa canggih, tapi tetap dijalankan oleh manusia.

Kesalahan kecil seperti:

bisa berdampak besar pada hasil akhir.

Dan yang lebih berbahaya:

Kesalahan ini sering tidak langsung terlihat.

5. Keterbatasan Tools yang Digunakan

Masih banyak site yang menggunakan alat dan metode yang sebenarnya sudah tidak ideal untuk kondisi saat ini.

Misalnya:

Di satu sisi, metode ini masih “berfungsi”.
Tapi di sisi lain, mereka tidak lagi cukup untuk tuntutan akurasi dan kecepatan saat ini.

6. Tidak Ada Sistem Validasi yang Jelas

Salah satu masalah terbesar bukan pada perhitungan
tapi pada tidaknya ada pembanding yang objektif.

Tanpa validasi:

Padahal, tanpa pembanding, kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa akurat data yang kita gunakan.

Lalu, Apa Dampaknya?

Selisih volume bukan hanya angka di laporan.

Di balik itu ada:

Dalam skala besar, selisih kecil yang terus terjadi bisa menjadi akumulasi yang signifikan.

Menuju Perhitungan yang Lebih Akurat

Masalah ini bukan tidak bisa diselesaikan.
Tapi perlu pendekatan yang berbeda.

Beberapa hal yang mulai menjadi standar di banyak site progresif:

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan angka,
tapi memastikan angka tersebut benar-benar bisa dipercaya.

Pada akhirnya, perhitungan volume bukan hanya soal teknik, tapi soal kepercayaan terhadap data.

Ketika data akurat, keputusan menjadi lebih tepat.
Ketika keputusan tepat, operasional menjadi lebih efisien.

Dan di industri seperti pertambangan,
akurasi bukan lagi pilihan—tapi kebutuhan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

April 26 – Transformasi survei di tambang bukan tentang mengganti semua metode lama, melainkan menyusun workflow yang lebih cerdas. Ketika akuisisi, pengolahan, dan output terhubung dalam satu sistem, data tidak lagi berhenti di meja surveyor ia bergerak menjadi dasar keputusan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Operasi tambang modern bergerak sangat cepat perubahan topografi harian, target produksi yang ketat, serta tuntutan keselamatan dan kepatuhan. Dalam konteks ini, survei pemetaan bukan lagi sekadar aktivitas pendukung, melainkan fondasi pengambilan keputusan. Pertanyaannya bukan lagi “apakah datanya ada?”, tetapi “seberapa cepat, konsisten, dan siap-pakai data itu untuk dipakai mengambil keputusan?”

Pendekatan yang semakin banyak diadopsi di Indonesia adalah integrasi tiga pilar: GNSS presisi tinggi dari Trimble R780, akuisisi udara berbasis drone lidar, dan pengolahan terpusat melalui Trimble Business Center (TBC) modul mining. Ketika ketiganya berjalan dalam satu workflow, dampaknya terasa langsung pada efisiensi waktu, kualitas data, dan keandalan hasil.

1) Akuisisi Data yang Konsisten: Fondasi yang Sering Diabaikan

Di lapangan, banyak tim survei menghadapi dilema klasik: alat tersedia, namun hasil tidak selalu konsisten dari hari ke hari. Variasi sinyal, kondisi lingkungan, hingga konfigurasi yang tidak seragam membuat data sulit direproduksi.

Perangkat GNSS kelas geodetik dari Trimble dengan dukungan multi-konstelasi dan metode koreksi yang matang memberikan stabilitas posisi yang dibutuhkan untuk pekerjaan berulang seperti:

Konsistensi ini penting bukan hanya untuk akurasi sesaat, tetapi untuk kepercayaan terhadap data saat dipakai lintas divisi survey, mine plan, hingga operasi.

2) Drone: Kecepatan Akuisisi untuk Area Luas dan Dinamis

Jika GNSS memastikan ketepatan titik, maka drone memberikan skala. Area pit, disposal, hingga stockpile yang berubah cepat menuntut metode akuisisi yang:

Dengan fotogrametri maupun LiDAR, drone mampu menghasilkan model permukaan resolusi tinggi dalam waktu singkat. Dampaknya nyata:

Di banyak site, kombinasi GNSS sebagai kontrol dan drone sebagai akuisisi area luas menjadi standar baru workflow survei.

3) TBC Mining: Mengubah Data Menjadi Informasi Siap Pakai

Bottleneck berikutnya sering terjadi di tahap pengolahan. Data ada, tapi tidak cepat menjadi output yang bisa dipakai. Di sinilah peran TBC Mining menjadi krusial menggabungkan data GNSS, drone (foto/LiDAR), dan sumber lain dalam satu lingkungan kerja.

Dengan TBC, tim dapat:

Nilai tambah terbesarnya bukan hanya fitur, tetapi konsistensi proses. Output yang dihasilkan hari ini dapat direplikasi besok dengan parameter yang sama penting untuk audit, pelaporan, dan koordinasi lintas tim.

4) Dampak Nyata di Operasi Tambang

Ketika ketiga komponen ini berjalan selaras, manfaatnya terasa di level operasional:

Pada akhirnya, survei tidak lagi menjadi “penyedia data”, tetapi penyedia insight yang langsung berdampak pada produksi dan biaya.

5) Relevansi untuk Indonesia: Kondisi Nyata, Solusi Nyata

Kondisi lapangan di Indonesia—topografi beragam, vegetasi, cuaca, hingga keterbatasan akses menuntut solusi yang tidak hanya canggih di atas kertas, tetapi teruji di lapangan. Integrasi Trimble, drone, dan TBC memberikan keseimbangan antara:

Bagi perusahaan tambang yang ingin meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas, pendekatan terintegrasi ini menjadi langkah yang masuk akal bukan sekadar investasi alat, tetapi investasi pada kepastian data.adi langkah strategis menuju sistem pengukuran yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

April 26 – Di industri tambang, satu hal yang tidak bisa ditawar adalah akurasi dan konsistensi data. Kesalahan beberapa sentimeter saja dapat berdampak pada perhitungan volume, desain pit, batas disposal, hingga perencanaan hauling road. Dalam praktiknya, tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan data yang presisi sekali waktu, tetapi memastikan hasil pengukuran tetap stabil dan dapat direproduksi di berbagai kondisi lapangan.

Belakangan ini, tidak sedikit pelaku tambang dan perkebunan yang mengeluhkan inkonsistensi data dari perangkat GNSS kelas entry hingga menengah. Perbedaan hasil antar hari, deviasi posisi yang berubah-ubah, hingga kualitas fix yang tidak stabil sering kali menimbulkan pertanyaan besar di tahap verifikasi. Dampaknya bukan hanya teknis, tetapi juga administratif terutama ketika data tersebut digunakan untuk pelaporan resmi atau kebutuhan audit internal. Dalam konteks inilah Trimble R780 menjadi relevan.

Stabilitas yang Teruji di Kondisi Lapangan

Trimble R780 dirancang untuk menghadirkan performa GNSS yang stabil dengan dukungan multi-constellation dan teknologi koreksi canggih. Namun yang paling dirasakan di lapangan bukan sekadar spesifikasi teknisnya, melainkan kemampuan mempertahankan konsistensi koordinat dari waktu ke waktu.

Pada pengujian yang dilakukan bersama beberapa pengguna tambang dan perkebunan, kombinasi R780 sebagai rover dengan R980 sebagai base menunjukkan hasil yang stabil dengan deviasi yang sangat minim antar pengukuran ulang pada titik yang sama. Konsistensi inilah yang menjadi faktor pembeda ketika data digunakan untuk:

Relevansi untuk Industri Perkebunan dan Pemerintah

Di sektor perkebunan, akurasi batas lahan dan pemetaan blok tanam menjadi krusial. Perbedaan koordinat yang tidak konsisten dapat menimbulkan potensi sengketa lahan atau kesalahan dalam perencanaan drainase dan jalan kebun. Dengan sistem GNSS yang stabil, proses pemetaan menjadi lebih terkontrol dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, di sektor pemerintah baik untuk kebutuhan pertanahan, infrastruktur, maupun pengawasan wilayah kredibilitas data menjadi prioritas utama. Data yang dihasilkan harus mampu melewati proses validasi dan memiliki rekam jejak pengukuran yang jelas. Perangkat seperti R780 dan R980 memberikan rasa percaya diri lebih tinggi karena reliabilitasnya sudah teruji di berbagai proyek berskala besar.

Lebih dari Sekedar Spesifikasi

Sering kali, keputusan pembelian GNSS hanya didasarkan pada harga atau fitur di atas kertas. Namun pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa faktor paling menentukan justru adalah ketahanan performa dalam kondisi nyata: tutupan awan, area berbukit, vegetasi rapat, hingga interferensi sinyal.

Bagi banyak pengguna yang sebelumnya mencoba berbagai brand dengan hasil yang kurang konsisten, beralih ke sistem yang lebih stabil bukan lagi soal preferensi, melainkan kebutuhan operasional. Ketika data menjadi dasar pengambilan keputusan strategis, kompromi terhadap kualitas bukanlah pilihan.

Investasi pada Kepastian Data

Di tengah tuntutan efisiensi dan transparansi, industri tambang, perkebunan, dan instansi pemerintah membutuhkan perangkat yang tidak hanya mampu mengukur, tetapi juga memberikan kepastian hasil. Konsistensi data bukan sekadar angka teknis ia adalah fondasi kepercayaan terhadap seluruh proses kerja di lapangan.

Melalui kombinasi Trimble R780 dan R980, standar pengukuran dapat ditingkatkan ke level yang lebih dapat diandalkan. Bagi organisasi yang ingin meminimalkan risiko kesalahan data dan meningkatkan kredibilitas hasil survei, pendekatan ini menjadi langkah strategis menuju sistem pengukuran yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

Bandung April 26 – GPS Lands Indosolutions kembali melanjutkan program GLIS Campus Connect (GCC) melalui kegiatan workshop yang diselenggarakan di Politeknik Energi Pertambangan Bandung (PEPB).

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan, khususnya dalam bidang survei dan pemetaan di sektor energi dan pertambangan.

Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan pemaparan langsung mengenai pemanfaatan teknologi drone LiDAR DJI Matrice 400 dan GNSS Trimble R780, yang saat ini banyak digunakan untuk mendukung efisiensi dan akurasi pekerjaan di lapangan.

Rafi Ramadhan, Sales Executive GPS Lands Indosolutions yang menjadi salah satu pembicara dalam sesi ini, menyampaikan bahwa teknologi hanyalah alat bantu. “Yang paling penting adalah bagaimana kita memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan data yang benar-benar bisa digunakan dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Tidak hanya berfokus pada aspek teknis, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi terkait tantangan dunia kerja, kebutuhan kompetensi di industri, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika sektor energi dan pertambangan.

Antusiasme peserta terlihat dari interaksi yang aktif selama sesi berlangsung. Mahasiswa tidak hanya tertarik pada teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga pada insight praktis yang dibagikan oleh tim GPS Lands Indosolutions.

Melalui program GLIS Campus Connect, GPS Lands Indosolutions berharap dapat terus berkontribusi dalam mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memiliki pola pikir dan kesiapan yang dibutuhkan untuk berkembang di industri.

Program ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri, sekaligus mendorong lahirnya talenta-talenta unggul di bidang energi dan pertambangan di Indonesia.

Penulis Kholis Muhsin Lubis

April 26 – Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan data bawah permukaan yang cepat, akurat, dan minim risiko semakin meningkat terutama di industri pertambangan dan sektor pemerintahan. Metode konvensional seperti pengeboran atau penggalian uji memang masih digunakan, namun sering kali memakan waktu, biaya, dan berisiko terhadap keselamatan kerja. Di sinilah teknologi Drone Ground Penetrating Radar (Drone GPR) mulai menunjukkan perannya sebagai solusi yang lebih efisien dan adaptif.

Drone GPR menggabungkan kemampuan mobilitas udara dengan sensor radar penembus tanah untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanpa perlu kontak langsung dengan tanah. Teknologi ini memungkinkan identifikasi void, rongga, utilitas tertanam, pipa, hingga indikasi perubahan struktur tanah secara lebih cepat dibandingkan metode tradisional. Dengan pendekatan non-destruktif, investigasi dapat dilakukan tanpa mengganggu area kerja secara signifikan.

Relevansi untuk Industri Tambang

Di sektor pertambangan, keberadaan rongga bawah tanah, bekas terowongan lama, atau potensi amblesan menjadi isu serius yang dapat berdampak pada keselamatan operasional. Drone GPR memberikan keunggulan dalam melakukan survei pada area yang sulit dijangkau, tidak stabil, atau berisiko tinggi jika diakses langsung oleh personel.

Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk:

  1. Identifikasi potensi void sebelum aktivitas alat berat masuk ke area tertentu
  2. Monitoring stabilitas lereng dan area disposal
  3. Investigasi bawah permukaan pada jalur hauling road
  4. Studi pendahuluan sebelum pengeboran eksplorasi

Dengan data yang diperoleh secara cepat dan terintegrasi, manajemen tambang dapat mengambil keputusan berbasis risiko yang lebih terukur.

Peran Strategis di Sektor Pemerintah

Bagi instansi pemerintah baik yang bergerak di bidang infrastruktur, energi, lingkungan, maupun tata ruang Drone GPR membuka peluang baru dalam pemetaan bawah tanah tanpa perlu pembongkaran. Investigasi utilitas bawah tanah, deteksi pipa lama, studi kondisi tanah sebelum pembangunan, hingga identifikasi potensi rongga alami dapat dilakukan secara lebih efisien.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur nasional yang masif, kemampuan memperoleh data bawah permukaan dengan cepat menjadi nilai strategis. Perencanaan menjadi lebih presisi, potensi konflik utilitas dapat diminimalkan, dan risiko kegagalan konstruksi dapat ditekan sejak tahap awal.

Kolaborasi Teknologi dan Pengembangan Solusi

Sejak akhir tahun lalu, GPS Lands telah menjalin kerja sama dengan SPH Engineering dalam menghadirkan solusi Drone GPR di Indonesia. Kolaborasi ini bukan sekadar menghadirkan produk, tetapi membangun kesiapan teknis dan pemahaman operasional yang sesuai dengan kondisi lapangan di Indonesia.

Saat ini, unit demo Drone GPR sedang dalam tahap pengujian intensif oleh para engineer GPS Lands. Pengujian ini mencakup validasi data, kalibrasi sistem, hingga evaluasi workflow pengolahan agar solusi yang ditawarkan benar-benar siap digunakan di lingkungan operasional tambang maupun proyek pemerintah.

Pendekatan ini penting, karena keberhasilan implementasi tidak hanya ditentukan oleh perangkat keras, tetapi juga oleh integrasi data, interpretasi hasil, serta kesiapan tim pengguna.

Menuju Standar Baru Investigasi Bawah Permukaan

Perkembangan teknologi drone tidak lagi berhenti pada pemetaan permukaan atau fotogrametri. Integrasi sensor geofisika seperti GPR menandai fase baru dalam survei geospasial—di mana data permukaan dan bawah permukaan dapat dikombinasikan untuk menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif.

Bagi industri tambang dan instansi pemerintah yang mulai mempertimbangkan efisiensi, keselamatan, serta akurasi dalam pengambilan keputusan, Drone GPR dapat menjadi bagian dari transformasi tersebut. Bukan untuk menggantikan seluruh metode konvensional, tetapi untuk melengkapinya dengan pendekatan yang lebih cepat, aman, dan berbasis teknologi.

Dengan kesiapan teknologi, pengujian yang matang, dan dukungan tim engineer berpengalaman, solusi ini membuka peluang baru dalam investigasi bawah permukaan di Indonesia—lebih presisi, lebih aman, dan lebih strategis untuk masa depan.

Penulis Kholis Muhsin Lubis