Bagaimana jika pekerjaan survey tidak lagi selalu bergantung pada base station dan sinyal internet?
Inilah yang ingin dibawa oleh Trimble CenterPoint RTX.
JUST RTX
Satu teknologi.
Satu pesan.
Kebebasan bekerja dengan GNSS berakurasi tinggi tanpa harus bergantung pada base station dan sinyal internet di lokasi.
Trimble CenterPoint RTX merupakan layanan koreksi GNSS berbasis Precise Point Positioning (PPP) yang dapat diterima langsung melalui satelit. Dengan receiver yang kompatibel, RTX memberikan positioning berakurasi centimeter-level dan dapat digunakan sebagai metode koreksi utama maupun sebagai backup ketika koneksi RTK dan sinyal internet (sistem CORS) terganggu.
Tidak Perlu Membawa Base Station ke Mana-Mana
Dalam pekerjaan survey konvensional, RTK sering membutuhkan koneksi ke base station atau jaringan RTK.
Tetapi bagaimana ketika pekerjaan berada di:
Area tambang yang jauh, perkebunan luas, proyek infrastruktur, atau lokasi dengan konektivitas yang tidak selalu stabil?
Di sinilah RTX memberikan pendekatan yang berbeda.
Dengan koreksi RTX yang dapat diterima langsung melalui satelit, surveyor dapat bekerja tanpa harus menempatkan base station sendiri di lokasi. Ini membantu menyederhanakan setup pekerjaan dan memberikan fleksibilitas lebih besar untuk berpindah dari satu area ke area lainnya.
RTX di Dalam GNSS Trimble
RTX bukan sekadar layanan tambahan.
Teknologi ini menjadi bagian dari ekosistem GNSS Trimble dan tersedia pada sejumlah receiver seperti Trimble R980, R780, R580, DA2 Catalyst dan Trimbel Alloy. Untuk produk tertentu, Trimble juga menyediakan RTX yang sudah aktif pada periode awal penggunaan.
Artinya, satu receiver dapat memberikan lebih banyak pilihan metode positioning:
RTK ketika tersedia.
RTX ketika dibutuhkan.
Dengan kombinasi tersebut, pekerjaan survey dapat menjadi lebih fleksibel dan mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber koreksi.
JUST RTX.
Bukan tentang menambahkan lebih banyak perangkat.
Bukan tentang membuat workflow semakin kompleks.
RTX adalah tentang memberikan kebebasan lebih besar kepada surveyor untuk bekerja di lapangan.
Karena ketika pekerjaan berpindah ke lokasi yang jauh dan kondisi lapangan berubah, GNSS seharusnya ikut beradaptasi.
JUST RTX.
Work anywhere. Stay on point.
Untuk mengetahui receiver Trimble yang kompatibel dengan RTX dan skenario penggunaannya, GPS Lands Indosolutions siap membantu menentukan konfigurasi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan Anda.
Oct – 26 Pelabuhan adalah salah satu lingkungan operasional yang paling kompleks. Area yang luas, aktivitas kapal dan kendaraan yang terus bergerak, container yard, crane, tangki, gudang, jalan akses, hingga infrastruktur di sepanjang dermaga membuat kebutuhan monitoring tidak pernah benar-benar berhenti.
Selama ini, CCTV menjadi mata utama pelabuhan. Namun CCTV memiliki keterbatasan sederhana: kamera berada di satu titik.
Bagaimana jika ketika terjadi insiden di sisi lain pelabuhan, operator dapat mengirim “mata” ke lokasi tersebut dalam hitungan menit tanpa harus menunggu personel datang?
Di sinilah konsep Drone-in-a-Box mulai menjadi menarik.
Barcelona Sudah Menggunakannya
Konsep ini bukan lagi sekadar wacana teknologi.
Pada Oktober 2025, Port of Barcelona mengintegrasikan DJI Dock 3 ke dalam jaringan perlindungan pelabuhannya. Sistem tersebut memungkinkan drone selalu berada dalam kondisi siap operasi dan dikendalikan dari Port Police Control Centre.
Dengan dukungan jaringan 5G, drone dapat diterbangkan secara remote ke berbagai titik di area pelabuhan.
Penggunaannya tidak hanya untuk keamanan. Port of Barcelona menyebut beberapa fungsi seperti respons terhadap keadaan darurat, inspeksi infrastruktur, pembuatan orthophoto berpresisi tinggi, serta live video dari area yang sulit dijangkau kamera konvensional.
Menariknya, Barcelona juga sebelumnya melakukan eksperimen dengan drone udara dan drone air yang terintegrasi untuk meningkatkan keamanan dan pengelolaan operasional pelabuhan.
Artinya, arah perkembangannya bukan sekadar “pelabuhan menggunakan drone”.
Pelabuhan mulai membangun sistem aerial intelligence.
Dari “Drone” Menjadi “Aerial Monitoring Layer”
Kesalahan yang sering terjadi ketika membicarakan DJI Dock 3 adalah melihatnya hanya sebagai sebuah drone otomatis.
Padahal nilai sebenarnya berada pada kombinasi:
DJI Dock 3 + Matrice 4D/4TD + konektivitas + FlightHub 2 + SOP operasional + data.
DJI Dock 3 dirancang untuk operasi remote 24/7 dan dapat menggunakan Matrice 4D maupun Matrice 4TD. Matrice 4D lebih diarahkan pada mapping dan inspeksi detail, sedangkan Matrice 4TD menambahkan kamera thermal yang relevan untuk emergency response, public safety dan inspeksi infrastruktur.
Dengan pendekatan ini, fungsi drone dapat ditempatkan sebagai lapisan monitoring udara yang melengkapi CCTV, sensor, tim security, engineering dan sistem informasi pelabuhan.
Sederhananya:
CCTV adalah mata yang tetap.
Drone adalah mata yang bisa bergerak.
Control room adalah otaknya.
Apa yang Bisa Dilakukan di Pelabuhan Indonesia?
Potensinya cukup luas.
1. Security & Incident Response
Ketika terjadi aktivitas mencurigakan, kecelakaan, atau kejadian tertentu di area yang jauh dari control room, drone dapat digunakan sebagai sumber visual tambahan untuk membantu operator mendapatkan situasi aktual sebelum personel tiba.
2. Inspeksi Infrastruktur
Dermaga, roof, warehouse, crane, conveyor, tank, breakwater dan berbagai struktur lainnya membutuhkan inspeksi berkala.
Drone dapat membantu mengurangi kebutuhan personel untuk langsung berada di area yang sulit atau berisiko, sekaligus menghasilkan dokumentasi visual yang lebih konsisten.
Penggunaan drone untuk meningkatkan keselamatan pekerja dan mempercepat akses ke area sulit dijangkau juga menjadi salah satu alasan utama pengembangan teknologi drone di berbagai pelabuhan dunia.
3. Mapping & Digital Documentation
Matrice 4D dapat digunakan untuk kebutuhan mapping dan pengambilan data visual secara sistematis.
Bagi pelabuhan yang memiliki area sangat luas, data aerial dapat digunakan untuk memperbarui kondisi lapangan, orthophoto, dokumentasi aset dan kebutuhan engineering tertentu.
4. Thermal Monitoring
Untuk pelabuhan dengan aktivitas energi, industri, gudang, kendaraan berat atau fasilitas tertentu, kamera thermal pada Matrice 4TD membuka kemungkinan monitoring tambahan yang tidak dapat dilakukan kamera RGB biasa.
Bukan berarti drone menggantikan sistem monitoring yang sudah ada.
Justru sebaliknya.
Drone menjadi lapisan tambahan ketika sistem yang ada membutuhkan perspektif yang lebih fleksibel.
Lalu, Apakah Semua Pelabuhan Membutuhkan DJI Dock 3?
Belum tentu.
Dan justru di sinilah diskusinya menjadi menarik.
Investasi Dock 3 seharusnya tidak dimulai dari pertanyaan:
“Berapa harga Dock 3?”
Tetapi dari pertanyaan:
“Masalah operasional apa yang ingin kita selesaikan dengan aerial monitoring?”
Pelabuhan dengan area yang luas, kebutuhan inspeksi berulang, tuntutan respons cepat, infrastruktur yang kompleks dan kebutuhan monitoring 24/7 akan memiliki business case yang berbeda dibandingkan pelabuhan dengan aktivitas yang lebih sederhana.
Karena itu, pendekatan yang tepat bukan sekadar menjual drone.
Mulailah dari use case → workflow → kebutuhan data → integrasi → baru menentukan teknologi.
Peluang untuk Pelabuhan Indonesia
Indonesia memiliki jaringan pelabuhan yang sangat besar dan karakteristik yang berbeda-beda. Karena itu, penerapan teknologi seperti DJI Dock 3 tidak harus dimulai dengan proyek besar.
Salah satu pendekatan yang lebih realistis adalah memulai dari Proof of Concept (POC).
Misalnya:
1 Dock + 1 drone → 1 area kritis → 1 use case → evaluasi hasil.
Dari sana dapat diukur:
- seberapa cepat respons terhadap incident;
- berapa banyak inspeksi yang dapat dilakukan;
- area mana yang paling membutuhkan aerial monitoring;
- potensi pengurangan pekerjaan manual atau exposure terhadap risiko;
- kualitas data yang dihasilkan;
- serta bagaimana data drone dapat masuk ke workflow operasional pelabuhan.
Jika hasilnya memberikan nilai nyata, sistem kemudian dapat dikembangkan menjadi beberapa Dock, beberapa titik operasi, hingga terintegrasi dengan control room dan sistem digital pelabuhan.
Port of Barcelona sendiri menunjukkan arah tersebut: DJI Dock 3 ditempatkan sebagai bagian dari jaringan perlindungan dan digitalisasi pelabuhan, bukan sebagai perangkat yang berdiri sendiri.
Indonesia Tidak Harus Menunggu
Teknologi drone di sektor pelabuhan sudah bergerak dari sekadar dokumentasi menjadi bagian dari operational intelligence.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Apakah drone bisa digunakan di pelabuhan?”
Tetapi:
“Di bagian mana drone dapat memberikan nilai paling besar bagi operasional pelabuhan kita?”
DJI Dock 3 memberikan salah satu jawabannya: sebuah aerial monitoring system yang dapat ditempatkan dekat dengan area operasi dan siap digunakan secara remote ketika dibutuhkan.
Bagi pengelola pelabuhan, ini bukan hanya tentang membeli drone.
Ini tentang membangun mata tambahan di udara yang dapat bekerja bersama CCTV, security, engineering, emergency response, mapping dan sistem digital yang sudah dimiliki.
Dan mungkin, langkah pertama menuju smart port bukan selalu membangun sistem yang lebih besar.
Kadang cukup dimulai dengan satu titik, satu Dock, satu use case—lalu membuktikan nilainya.
Oct – 26 Bagi perusahaan perkebunan, GNSS bukan sekadar alat untuk mendapatkan koordinat. Dalam banyak pekerjaan lapangan, GNSS menjadi bagian dari alur kerja mulai dari eksplorasi lahan, pembuatan teras, hingga menentukan titik tanam.
Karena itu, ketika GNSS sering sulit mendapatkan posisi fixed di area dengan vegetasi lebat, dampaknya bukan hanya soal alat yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan posisi. Pekerjaan lapangan ikut melambat, pengukuran harus diulang, dan produktivitas tim dapat ikut terdampak.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik ketika GPS Lands berdiskusi dengan salah satu perusahaan perkebunan besar di Indonesia.
Ketika Kondisi Lapangan Menjadi Tantangan GNSS
Perusahaan tersebut sebelumnya menggunakan GNSS dari brand lain untuk berbagai kebutuhan pemetaan dan pekerjaan lapangan. Salah satu kendala yang dirasakan adalah ketika perangkat digunakan pada area dengan vegetasi yang cukup rapat.
Kondisi seperti ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi teknologi GNSS. Pepohonan dan objek di sekitar dapat menghalangi maupun memantulkan sinyal satelit, sehingga proses positioning bisa menjadi lebih sulit dibandingkan kondisi dengan langit terbuka.
Masalahnya menjadi semakin terasa ketika GNSS digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi.
Misalnya:
- eksplorasi dan pemetaan area perkebunan,
- menentukan titik tanam,
- pembuatan dan pengukuran teras,
- inventarisasi aset atau titik lapangan,
- pengambilan koordinat untuk pekerjaan GIS.
Dalam kondisi seperti itu, waktu yang hilang di lapangan juga merupakan biaya.
Jika operator harus berpindah lokasi, menunggu posisi membaik, mengulang pengukuran, atau mencari area yang lebih terbuka hanya untuk mendapatkan koordinat yang dapat digunakan, produktivitas tim tentu ikut terpengaruh.
Bukan Sekadar Memilih GNSS yang Lebih Mahal
Dari sudut pandang kami di GPS Lands, persoalannya bukan sekadar mengganti GNSS dengan perangkat yang lebih mahal.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Seberapa berat kondisi lapangan, seberapa tinggi tuntutan akurasi, dan berapa nilai produktivitas yang ingin dicapai?”
Ini penting karena kebutuhan setiap perusahaan berbeda.
Untuk pekerjaan survey yang sangat demanding, solusi seperti Trimble R780 dapat menjadi pilihan. R780 menggunakan Trimble ProPoint untuk meningkatkan performa GNSS pada lingkungan yang menantang dan juga dilengkapi Trimble Inertial Platform untuk tilt compensation, sehingga workflow pengukuran dapat dibuat lebih cepat dan fleksibel.
Namun, tidak semua kebutuhan lapangan harus langsung menggunakan receiver kelas tersebut.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan solusi lebih ringan dan investasi awal yang lebih rendah, Trimble DA2 + Catalyst dapat menjadi alternatif yang menarik.
DA2 Catalyst: Ketika Perusahaan Membutuhkan Solusi yang Lebih Fleksibel
Trimble Catalyst menggunakan konsep software-defined GNSS positioning. DA2 berfungsi sebagai receiver GNSS yang terhubung secara wireless ke perangkat Android atau iOS, sementara tingkat akurasi ditentukan melalui subscription Catalyst. Trimble menyebut pilihan positioning-nya dapat mencapai level sub-meter hingga centimeter, tergantung layanan yang digunakan.
Salah satu hal yang menarik untuk perusahaan dengan banyak aktivitas lapangan adalah fleksibilitasnya.
Perusahaan tidak selalu harus memulai dengan investasi receiver GNSS survey kelas tinggi untuk seluruh tim.
Dengan DA2 Catalyst, pendekatannya bisa lebih bertahap:
DA2 → aplikasi field → pengumpulan data → workflow GIS → peningkatan kebutuhan → upgrade solusi.
DA2 juga menggunakan Trimble ProPoint dan Trimble menyebut peningkatan akurasi serta reliability di sekitar pepohonan dan bangunan. Namun, seperti semua teknologi GNSS, kondisi lapangan tetap berpengaruh dan pengukuran di bawah kanopi atau dekat objek penghalang tetap membutuhkan prosedur pengukuran yang tepat.
Bagi perusahaan perkebunan yang memiliki banyak pekerjaan berbasis titik dan koordinat, pendekatan seperti ini bisa menjadi menarik karena kebutuhan teknologi dapat disesuaikan dengan fungsi pekerjaan dan budget yang tersedia.
R780 atau DA2 Catalyst?
Keduanya bukan sekadar soal “mana yang lebih bagus”.
Lebih tepatnya:
| Kebutuhan | Solusi yang dapat dipertimbangkan |
|---|---|
| Survey dengan tuntutan tinggi | Trimble R780 |
| Pekerjaan positioning/GIS yang lebih fleksibel | DA2 Catalyst |
| Membutuhkan workflow survey profesional | R780 + Trimble ecosystem |
| Ingin investasi awal lebih ringan | DA2 + Catalyst |
| Banyak pekerjaan titik/aset lapangan | DA2 Catalyst |
| Pekerjaan survey yang lebih demanding | R780 |
Dalam diskusi dengan perusahaan perkebunan tersebut, DA2 Catalyst menjadi salah satu opsi yang menarik karena lebih sesuai dengan batasan budget sekaligus menjawab kebutuhan pekerjaan lapangan yang mereka hadapi.
Dan menurut kami, di situlah keputusan teknologi seharusnya dibuat.
Bukan berdasarkan harga alat semata, tetapi berdasarkan:
Kondisi lapangan → kebutuhan akurasi → produktivitas → workflow → budget → potensi pengembangan.
GNSS Seharusnya Menjadi Bagian dari Ekosistem
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika perusahaan membeli perangkat survey.
Jangan hanya melihat receiver.
Lihat juga workflow setelah data diperoleh.
Data GNSS dapat menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar:
GNSS → GIS → UAV → Mapping → Analysis → Monitoring
Misalnya, titik tanam dan area perkebunan dapat dipetakan menggunakan GNSS. Area yang lebih luas kemudian dapat dipetakan menggunakan UAV, sementara data hasil pengukuran dapat diintegrasikan ke dalam workflow GIS.
Dengan pendekatan seperti ini, investasi GNSS tidak berhenti pada satu perangkat.
Teknologi menjadi bagian dari sistem kerja yang dapat dikembangkan seiring kebutuhan perusahaan.
Memilih Teknologi yang Tepat untuk Kondisi Nyata
Pengalaman berdiskusi dengan perusahaan perkebunan menunjukkan satu hal sederhana:
Spesifikasi di brosur tidak selalu menjadi faktor utama dalam keputusan teknologi.
Yang lebih penting adalah bagaimana perangkat tersebut bekerja ketika dibawa ke lapangan.
Apakah operator lebih cepat menyelesaikan pekerjaan?
Apakah pengukuran lebih konsisten?
Apakah data lebih mudah masuk ke workflow perusahaan?
Apakah investasi tersebut sesuai dengan kebutuhan dan budget?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah teknologi tersebut masih relevan ketika kebutuhan perusahaan berkembang beberapa tahun ke depan?
Karena itu, sebelum memutuskan membeli GNSS baru, sebaiknya perusahaan melakukan evaluasi berdasarkan kondisi pekerjaan sebenarnya.
GPS Lands dapat membantu melakukan diskusi tersebut, mulai dari pemilihan GNSS, DA2 Catalyst, Trimble R780, workflow field data, hingga kebutuhan pengembangan solusi geospatial berikutnya.
Jika tim Anda mengalami kendala GNSS di area perkebunan dengan vegetasi lebat atau ingin mencari solusi positioning yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan budget, kami siap membantu melakukan assessment dan diskusi teknis terlebih dahulu sebelum menentukan perangkat.im GPS Lands Indosolutions
Sept – 26 Industri pertambangan Indonesia memasuki fase ketika data bukan lagi sekadar hasil pekerjaan survey, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Produksi batubara Indonesia mencapai sekitar 790 juta ton pada 2025. Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong digitalisasi tata kelola pertambangan melalui integrasi data dan sistem pengawasan.
Perubahan ini membuat kebutuhan teknologi di site ikut berkembang. Perusahaan tambang tidak cukup hanya memiliki alat survey yang akurat. Yang semakin penting adalah bagaimana data dari lapangan dapat dikumpulkan lebih cepat, diproses, dibandingkan dari waktu ke waktu, lalu digunakan untuk mengambil keputusan.
Di sinilah konsep Mining Technology Upgrade 2027 menjadi relevan.
Bukan Sekadar Ganti Alat, tetapi Upgrade Workflow
Dalam banyak operasi tambang, GNSS, Total Station atau scanner, drone, dan sistem monitoring masih digunakan sebagai perangkat yang berdiri sendiri.
Padahal keempatnya dapat membentuk satu alur kerja.
GNSS memberikan posisi yang presisi.
Scanner menangkap detail geometri dalam bentuk data 3D.
UAV membantu memperoleh data area yang luas dengan cepat.
Monitoring melihat bagaimana kondisi suatu area berubah dari waktu ke waktu.
Jika data tersebut diintegrasikan dengan workflow pengolahan dan analisis yang tepat, perusahaan tidak hanya mendapatkan “hasil survey”, tetapi memperoleh gambaran kondisi tambang yang lebih lengkap.
1. GNSS: Fondasi Posisi dan Kontrol di Lapangan
GNSS tetap menjadi salah satu perangkat penting dalam pekerjaan survey pertambangan. Kebutuhannya bukan hanya untuk menentukan koordinat, tetapi juga untuk pekerjaan seperti:
- Boundary dan pit survey
- Stockpile measurement
- Haul road dan grade checking
- Stakeout
- Final limit
- Pengukuran titik kontrol
- Verifikasi posisi pekerjaan lapangan
Perangkat GNSS profesional seperti Trimble R780 dirancang untuk pekerjaan positioning dengan tuntutan tinggi di lingkungan pertambangan. Trimble juga menempatkan GNSS sebagai bagian dari workflow mining untuk pekerjaan seperti grade checking, final pit limits, dan stockpile volumes.
Namun, upgrade GNSS sebaiknya tidak hanya dilihat dari spesifikasi receiver.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah GNSS yang digunakan mampu mendukung produktivitas dan kondisi kerja aktual di site?
2. Scanner: Ketika Survey Membutuhkan Detail 3D
Tidak semua kondisi tambang cukup direpresentasikan oleh titik-titik koordinat. Untuk area yang membutuhkan detail geometri tinggi, teknologi scanning dapat memberikan point cloud 3D yang lebih kaya.
Contohnya:
- Highwall dan slope
- Excavation
- Infrastruktur tambang
- Plant dan fasilitas
- As-built
- Surface inspection
- Perbandingan kondisi aktual dengan desain
Salah satu contoh teknologi di kelas ini adalah Trimble SX12, yang menggabungkan fungsi total station dan scanning. Perangkat ini mampu menangkap data scan hingga 26.600 titik per detik dengan angular accuracy 1″.
Nilainya bukan semata-mata pada jumlah titik.
Yang lebih penting adalah kemampuan menghasilkan representasi kondisi lapangan yang lebih detail sehingga engineer dapat melakukan pengukuran, inspeksi, dan perbandingan berdasarkan data 3D.
3. UAV: Memperluas Coverage Survey
Area tambang dapat berkembang sangat luas, sementara surveyor tetap harus bekerja dengan mempertimbangkan waktu, akses, dan keselamatan.
UAV memberikan pendekatan berbeda.
Dengan drone mapping, tim dapat memperoleh data area yang luas dan menghasilkan orthomosaic, DSM, DEM, point cloud, hingga model 3D. DJI sendiri menempatkan UAV sebagai bagian dari workflow mining untuk stockpile measurement, pit modeling, highwall inspection, dan site safety.
Teknologi ini bukan berarti menggantikan GNSS atau surveyor.
Justru nilai terbesarnya muncul ketika UAV dan survey konvensional saling melengkapi.
GNSS memberikan kontrol dan referensi posisi.
UAV memberikan coverage.
Software kemudian mengubah hasil akuisisi menjadi informasi yang dapat digunakan untuk analisis.
Untuk kebutuhan monitoring yang berulang, teknologi seperti DJI Dock 3 juga memungkinkan misi drone dijadwalkan dan dijalankan secara remote untuk memperoleh data site secara rutin.
4. Monitoring: Dari “Mengukur” Menjadi “Memahami Perubahan”
Ini bagian yang sering menjadi pembeda antara survey biasa dan mine monitoring.
Survey memberikan kondisi pada suatu waktu.
Monitoring memberikan perubahan dari waktu ke waktu.
Dalam pertambangan, informasi tersebut dapat digunakan untuk memahami pergerakan atau perubahan pada:
- Pit wall
- Slope
- Tailings
- Infrastruktur
- Area konstruksi
- Fasilitas tambang
Sistem monitoring modern dapat menggabungkan data dari GNSS, total station, serta sensor geoteknik dan mengolahnya menjadi informasi pergerakan serta alert. Trimble 4D Control, misalnya, dirancang untuk mengelola data sensor, analisis pergerakan, visualisasi, dan alarming secara terintegrasi.
Dengan demikian, fokusnya berubah:
Dari:
“Berapa koordinat titik ini?”
Menjadi:
“Apakah titik atau struktur ini berubah, seberapa besar perubahannya, dan bagaimana trennya?”
Itulah nilai utama dari monitoring.
Mengapa Empat Teknologi Ini Sebaiknya Dilihat sebagai Satu Ekosistem?
Bayangkan sebuah operasi tambang melakukan pengukuran pit secara berkala.
GNSS digunakan untuk kontrol dan positioning.
UAV mengambil data area secara menyeluruh.
Scanner digunakan pada area tertentu yang membutuhkan detail 3D.
Monitoring digunakan pada lokasi yang perlu diamati pergerakannya secara berkala.
Data tersebut kemudian diproses dan dibandingkan dengan data sebelumnya.
Hasil akhirnya bukan lagi sekadar kumpulan file survey.
Perusahaan memiliki informasi spasial yang dapat digunakan untuk mendukung keputusan engineering, produksi, dan safety.
Inilah yang menurut kami menjadi arah penting Mining Technology Upgrade 2027.
Apakah Semua Tambang Harus Membeli Teknologi Baru?
Tidak.
Upgrade teknologi tidak selalu berarti membeli semua perangkat.
Untuk beberapa perusahaan, investasi GNSS baru mungkin menjadi prioritas.
Untuk perusahaan lain, kebutuhan terbesar justru UAV mapping atau monitoring.
Ada pula proyek yang lebih efisien menggunakan jasa survey dan pemetaan untuk pekerjaan tertentu tanpa harus menambah aset.
Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah memulai dari:
Masalah → kebutuhan data → workflow → teknologi → investasi.
Bukan:
Produk → beli → baru mencari penggunaannya.
GPS Lands: Dari Peralatan hingga Solusi Survey
GPS Lands memahami bahwa kebutuhan setiap site berbeda.
Karena itu, solusi dapat disesuaikan mulai dari penyediaan alat survey, seperti GNSS, scanner, UAV dan perangkat monitoring, hingga jasa survey, mapping, monitoring, dan dukungan implementasi di lapangan.
Untuk perusahaan tambang yang sedang merencanakan Mining Technology Upgrade 2027, evaluasi dapat dimulai dari workflow yang sudah berjalan:
- Bagaimana data survey dikumpulkan?
- Berapa lama prosesnya?
- Area mana yang paling membutuhkan peningkatan produktivitas?
- Apakah data antar tim sudah terintegrasi?
- Apakah perubahan kondisi site sudah dimonitor secara berkala?
- Teknologi mana yang sebaiknya dimiliki dan mana yang lebih efisien menggunakan jasa?
Teknologi yang tepat bukan yang paling mahal, tetapi yang paling relevan terhadap kebutuhan operasional.
Jika perusahaan Anda sedang mempersiapkan upgrade teknologi survey, mapping, atau monitoring untuk 2027, GPS Lands dapat membantu mengevaluasi kebutuhan tersebut dari sisi perangkat maupun implementasi di lapangan.
Diskusikan kebutuhan Mining Technology Upgrade 2027 bersama tim GPS Lands Indosolutions
Sept – 26 Ketika kebutuhan pemetaan semakin luas, medan semakin sulit dijangkau, dan data lapangan harus tersedia lebih cepat, tantangannya bukan lagi sekadar memilih drone dengan kamera beresolusi tinggi.
Yang lebih penting adalah bagaimana mendapatkan data udara yang cukup luas, akurat, konsisten, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Di sinilah RAYBE Fixed-Wing VTOL dari BETA-UAS menjadi relevan.
RAYBE dirancang sebagai platform medium VTOL untuk remote sensing, dengan kombinasi efisiensi fixed-wing dan fleksibilitas Vertical Take-Off and Landing (VTOL). Konfigurasi ini memungkinkan drone beroperasi tanpa membutuhkan runway panjang, termasuk pada lokasi yang memiliki keterbatasan area untuk take-off dan landing.
Mengapa RAYBE Relevan untuk Kebutuhan Pemetaan Indonesia?
Indonesia memiliki karakter geografis yang membuat pekerjaan pemetaan udara tidak selalu sederhana.
Hutan yang rapat, kawasan perkebunan yang luas, area tambang, koridor infrastruktur, wilayah rawan bencana, hingga lokasi terpencil membutuhkan pendekatan survei yang berbeda.
Pada kondisi seperti ini, multirotor tetap sangat berguna untuk inspeksi detail dan area yang relatif kecil. Namun, ketika kebutuhan mulai bergeser ke pemetaan area menengah hingga luas, fixed-wing VTOL menawarkan pendekatan yang berbeda.
RAYBE menggabungkan:
- Fixed-wing efficiency untuk misi pemetaan;
- VTOL untuk take-off dan landing pada area terbatas;
- Autonomous mission untuk pengumpulan data terencana;
- Swappable sensor untuk menyesuaikan kebutuhan misi;
- RTK/PPK untuk mendukung kebutuhan akurasi geospasial;
- desain elektrik dan struktur komposit untuk mendukung operasi lapangan.
Secara spesifikasi publik, RAYBE memiliki maximum flight time hingga 50 menit, telemetry hingga 8 km, dan maximum mapping coverage hingga 300 hektare, dengan dukungan RTK/PPK.
Namun, angka tersebut bukan berarti setiap misi otomatis akan mencapai 300 hektare.
Luas cakupan aktual sangat bergantung pada sensor, GSD, overlap, ketinggian terbang, kondisi angin, terrain, serta desain mission planning.
Dan justru di sinilah konsultasi teknis menjadi penting.
Dari Drone ke Data: RAYBE untuk Aerial Intelligence
Kesalahan umum dalam memilih drone adalah memulai dari pertanyaan:
“Drone apa yang harus dibeli?”
Pendekatan yang lebih tepat adalah:
“Data apa yang ingin kita dapatkan, dari area sebesar apa, dalam kondisi seperti apa, dan untuk keputusan apa?”
Karena kebutuhan pemetaan kehutanan tidak sama dengan kebutuhan pemetaan tambang.
Kebutuhan assessment karhutla juga berbeda dengan inspeksi infrastruktur.
Begitu pula kebutuhan BPKH, pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, perusahaan tambang, maupun konsultan survei.
Karena itu, RAYBE sebaiknya dilihat sebagai bagian dari sebuah workflow aerial mapping, bukan hanya sebagai airframe.
Workflow yang kami rekomendasikan:
Detect → Plan → Fly → Capture → Process → Analyze → Decide
Data dari satelit, GIS, hotspot atau informasi lapangan dapat digunakan untuk menentukan area prioritas.
RAYBE kemudian digunakan untuk melakukan targeted aerial survey pada area yang membutuhkan resolusi dan informasi lebih detail.
Hasilnya dapat diproses menjadi:
- Orthomosaic
- DSM
- DTM
- Elevation data
- Point cloud
- 3D model
- Area classification
- Change detection
- Vegetation assessment
- Mapping dan dokumentasi kondisi lapangan
Dengan pendekatan ini, drone bukan menjadi tujuan akhir.
Drone adalah alat untuk menghasilkan data yang dapat digunakan.
RAYBE untuk Kehutanan dan BPKH
Salah satu area penggunaan RAYBE yang sangat relevan adalah pemetaan dan monitoring kawasan kehutanan.
Area hutan yang luas sering memiliki keterbatasan akses untuk survei darat. Pada kondisi tertentu, surveyor membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar hanya untuk mencapai lokasi.
RAYBE dapat digunakan sebagai platform pengumpulan data udara untuk:
1. Pemetaan kawasan hutan
Mendukung pembuatan orthophoto, model elevasi, dan basis data spasial kawasan.
2. Monitoring perubahan tutupan lahan
Data udara dapat dibandingkan secara periodik untuk melihat perubahan kondisi kawasan.
3. Inventarisasi area
Mendukung pengumpulan data spasial pada area yang luas dan sulit dijangkau.
4. Monitoring batas dan koridor
Data aerial dapat digunakan sebagai informasi pendukung untuk pemeriksaan kawasan dan koridor tertentu.
5. Dokumentasi kondisi lapangan
Membantu menyediakan visual dan data spasial yang lebih aktual sebagai pelengkap data existing.
Bagi instansi yang mengelola kawasan luas, nilai utama bukan hanya pada kemampuan drone terbang.
Nilainya terletak pada kemampuan mengubah area yang sulit dijangkau menjadi data spasial yang dapat dianalisis.
RAYBE untuk Karhutla: Dari Hotspot ke Verifikasi Lapangan
Karhutla merupakan salah satu contoh paling jelas mengapa integrasi antara data skala luas dan data resolusi tinggi diperlukan.
Pada September 2026, BMKG masih melaporkan tingginya konsentrasi hotspot di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Hingga 21 September, Kalimantan Tengah tercatat memiliki 5.283 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, disusul Sumatera Selatan 1.485 dan Kalimantan Barat 1.357.
BNPB juga menekankan pentingnya penanganan karhutla dari fase pencegahan, deteksi dini hingga pemulihan pascakebakaran, sementara hotspot sendiri perlu diverifikasi karena tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran. Di sinilah drone dapat berperan sebagai lapisan data di antara satellite intelligence dan ground verification.
Satellite
Memberikan awareness terhadap area yang luas.
↓
RAYBE
Melakukan targeted aerial mapping pada area prioritas.
↓
Ground Team
Melakukan verifikasi kondisi aktual.
↓
GIS & Processing
Mengubah data menjadi informasi spasial.
↓
Decision Making
Menentukan tindakan, prioritas, monitoring atau assessment lanjutan. Dengan pendekatan tersebut, RAYBE bukan diklaim sebagai alat yang “mencegah kebakaran”.
RAYBE membantu menyediakan data udara untuk mendukung assessment, pemetaan dan monitoring area yang menjadi perhatian.
Tidak Hanya RGB: Pilihan Sensor Mengikuti Kebutuhan Misi
Salah satu aspek penting RAYBE adalah konsep swappable sensor.
BETA secara resmi menjelaskan bahwa RAYBE memiliki sistem payload modular yang memungkinkan sensor diganti sesuai kebutuhan pemetaan. Halaman produk publik BETA saat ini mencantumkan kamera RGB 20 MP dan 24 MP serta pilihan lensa 16 mm, 25 mm, dan 35 mm APS-C.
Dalam pengembangan konfigurasi misi, kebutuhan pengguna dapat diarahkan pada kelas sensor yang berbeda.
RGB 20 MP
Cocok untuk kebutuhan pemetaan fotogrametri yang mengutamakan efisiensi investasi dan workflow pemetaan umum.
RGB 42 MP
Untuk kebutuhan yang memerlukan resolusi kamera lebih tinggi. Konfigurasi RAYBE 42 MP juga telah dipasarkan untuk kebutuhan pemetaan.
RGB resolusi tinggi hingga kelas 61 MP
Untuk kebutuhan tertentu yang membutuhkan detail citra lebih tinggi, konfigurasi kamera dapat dibahas berdasarkan payload, endurance, GSD dan target area.
Thermal
Untuk misi yang membutuhkan informasi temperatur sebagai bagian dari assessment, seperti monitoring area tertentu, assessment pascakejadian, inspeksi atau environmental monitoring, konfigurasi thermal dapat dipertimbangkan berdasarkan kompatibilitas payload dan kebutuhan operasional.
Penting: sensor bukan dipilih berdasarkan angka megapixel semata.
Kamera 20 MP belum tentu “kurang” dibanding 61 MP jika kebutuhan GSD, luas area, waktu terbang, processing dan deliverable sudah terpenuhi.
Sebaliknya, sensor resolusi tinggi juga tidak otomatis menjadi pilihan yang tepat untuk setiap pekerjaan.
Karena itu, GPS Lands membantu pengguna menentukan konfigurasi berdasarkan:
Area → GSD → Altitude → Overlap → Sensor → Endurance → RTK/PPK → Processing → Deliverable.
RAYBE untuk Mitigasi Bencana
Selain karhutla, platform VTOL seperti RAYBE memiliki relevansi untuk berbagai pekerjaan disaster mapping dan rapid assessment.
BNPB pada September 2026 masih melaporkan kejadian karhutla, longsor, banjir, kekeringan dan berbagai bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Pada beberapa lokasi, akses menuju area terdampak menjadi salah satu tantangan operasional.
RAYBE dapat dipertimbangkan untuk mendukung:
Longsor
- pemetaan area terdampak;
- terrain mapping;
- dokumentasi kondisi lereng;
- perhitungan perubahan dan volume;
- baseline untuk monitoring berikutnya.
Banjir
- pemetaan extent area terdampak;
- dokumentasi infrastruktur;
- pemetaan koridor sungai;
- assessment pascabencana.
Letusan gunung api
- pemetaan area yang sulit dijangkau;
- dokumentasi perubahan terrain;
- pemetaan material/deposit;
- baseline kondisi pascakejadian.
Karhutla
- assessment area terdampak;
- pemetaan burn area;
- monitoring perubahan tutupan lahan;
- dokumentasi pascakebakaran.
Dalam konteks kebencanaan, kecepatan memperoleh data sering sama pentingnya dengan detail data itu sendiri.
RAYBE untuk Tambang, Perkebunan dan Infrastruktur
RAYBE juga dapat ditempatkan dalam workflow industri yang membutuhkan pemetaan area luas secara berkala.
Pertambangan
RAYBE dapat mendukung:
- aerial topographic mapping;
- pit mapping;
- stockpile documentation;
- volume measurement;
- progress monitoring;
- terrain modelling;
- orthophoto generation.
Perkebunan
Untuk area perkebunan, aerial mapping dapat mendukung:
- mapping blok;
- plant health monitoring;
- tree counting;
- area inventory;
- monitoring perubahan kawasan;
- dokumentasi kondisi tanaman.
Infrastruktur
Untuk proyek infrastruktur dan kawasan luas:
- corridor mapping;
- route survey;
- site mapping;
- progress documentation;
- terrain modelling;
- inspection support;
- baseline mapping.
GPS Lands sendiri menempatkan RAYBE dalam beberapa kategori solusi, termasuk pertambangan, perkebunan & kehutanan, serta infrastruktur & transportasi.
Kapan Memilih VTOL dan Kapan Menggunakan Multirotor?
Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan merek drone.
| Kebutuhan | Fixed-Wing VTOL | Multirotor |
|---|---|---|
| Area menengah–luas | ✓ | ✓ |
| Take-off area terbatas | ✓ | ✓ |
| Efisiensi pemetaan | ✓ | △ |
| Inspeksi detail | △ | ✓ |
| Hover lama di satu titik | △ | ✓ |
| Mapping area luas | ✓ | △ |
| Detail objek dekat | △ | ✓ |
| Rapid inspection | △ | ✓ |
Artinya, RAYBE bukan pengganti semua jenis drone.
Dalam banyak workflow profesional, justru kombinasi beberapa platform memberikan hasil yang lebih baik:
Satellite → RAYBE → Multirotor → GNSS/Ground Survey → GIS
Satellite memberikan perspektif luas.
RAYBE melakukan pemetaan area prioritas.
Multirotor melakukan inspeksi detail.
GNSS atau survey terestris melakukan verifikasi presisi.
Kemudian seluruh data diintegrasikan menjadi informasi geospasial.
Inilah pendekatan yang kami sebut sebagai Aerial Intelligence Workflow.
Mengapa Memilih RAYBE melalui GPS Lands?
RAYBE bukan produk baru bagi GPS Lands.
Pada 22 November 2024, BETA-UAS menyerahkan unit RAYBE kepada PT GPS Lands Indosolutions sebagai bagian dari kerja sama distribusi resmi. Kerja sama tersebut juga mencakup training pengoperasian, maintenance dan aplikasi teknis agar GPS Lands dapat memberikan dukungan kepada end-user.
Artinya, ketika Anda berdiskusi dengan GPS Lands mengenai RAYBE, pembahasannya tidak berhenti pada:
“Berapa harga drone?”
Kami dapat membantu mulai dari:
01 — Mission Assessment
Memahami area, terrain, target data dan tujuan pekerjaan.
02 — Sensor Selection
Menentukan RGB, resolusi kamera, lensa, thermal atau konfigurasi lain yang sesuai.
03 — Mission Planning
Membahas GSD, altitude, overlap, flight time, area coverage dan ground control.
04 — Data Workflow
Menentukan bagaimana data akan diproses menjadi orthophoto, DSM, DTM, point cloud atau deliverable lainnya.
05 — Technical Demonstration
Jika dibutuhkan, kebutuhan dapat dibahas melalui technical discussion atau demo.
06 — Procurement Planning
Untuk organisasi yang sedang menyiapkan kebutuhan pengadaan, GPS Lands dapat membantu memberikan gambaran konfigurasi teknis dan indicative budget berdasarkan kebutuhan misi.
Dengan demikian, keputusan investasi tidak dimulai dari produk.
Keputusan dimulai dari kebutuhan pekerjaan.
Sedang Menyusun Anggaran Drone untuk Tahun Anggaran Berikutnya?
Banyak organisasi baru mulai membicarakan spesifikasi ketika proses pengadaan sudah berjalan.
Padahal, untuk teknologi seperti UAV mapping, proses yang lebih sehat adalah:
Identify → Define → Budget → Validate → Procure → Deploy
Jika kebutuhan Anda adalah:
- drone pemetaan area luas;
- drone VTOL untuk kawasan sulit dijangkau;
- pemetaan kehutanan;
- kebutuhan BPKH;
- monitoring kawasan;
- karhutla;
- disaster response;
- aerial survey pertambangan;
- pemetaan perkebunan;
- infrastructure mapping;
- RGB mapping;
- high-resolution aerial mapping;
- thermal aerial survey;
maka tahap yang tepat untuk berdiskusi bukan hanya ketika tender sudah dibuka.
Technical requirement dan konfigurasi ideal sebaiknya dipahami sejak tahap perencanaan.
RAYBE: Bukan Sekadar Drone, tetapi Bagian dari Sistem Data Geospasial
Pada akhirnya, investasi UAV seharusnya tidak berhenti pada kemampuan pesawat untuk terbang.
Nilai sebenarnya muncul ketika:
Drone menghasilkan data → data diproses → informasi dianalisis → informasi mendukung keputusan.
RAYBE memberikan fondasi untuk pengumpulan data udara pada area menengah hingga luas, terutama ketika kebutuhan pekerjaan membutuhkan kombinasi coverage, flexibility, operational access dan geospatial accuracy. BETA sendiri memosisikan RAYBE untuk remote sensing pada medan yang menantang, dengan fixed-wing efficiency, VTOL flexibility, modular sensor dan autonomous mission capability.
Dan melalui GPS Lands, RAYBE dapat ditempatkan ke dalam workflow yang lebih luas:
Capture → Map → Model → Monitor → Analyze → Decide.
Ingin Menentukan Konfigurasi RAYBE yang Sesuai dengan Kebutuhan Anda?
Jangan mulai dari pertanyaan “RAYBE berapa megapixel?”
Mulailah dari:
“Berapa luas area yang harus dipetakan, data apa yang dibutuhkan, dan keputusan apa yang ingin dihasilkan?”
Tim GPS Lands dapat membantu melakukan technical discussion, pemilihan konfigurasi sensor, mission assessment, indicative budget planning, hingga workflow pengolahan data untuk kebutuhan pemerintah, BPKH, kehutanan, perkebunan, pertambangan, infrastruktur, kebencanaan, dan survei-pemetaan.
Konsultasikan kebutuhan RAYBE Anda dengan GPS Lands.
Diskusikan RAYBE dengan GPS Lands
PT GPS Lands Indosolutions
Geospatial | Aerial | CORS | Monitoring | GPR | Magnetometer | XRF Analyzer Solutions Provider
Sept – 26 Dalam proyek tambang, keputusan menggunakan alat survey bukan hanya soal harga beli. Yang lebih penting adalah bagaimana alat tersebut memengaruhi produktivitas tim, kecepatan pekerjaan, akurasi data, hingga biaya operasional selama proyek berjalan.
Karena itu, pertanyaan “lebih baik beli atau sewa alat survey?” sebenarnya tidak memiliki satu jawaban untuk semua perusahaan.
Untuk proyek yang berlangsung lama dengan kebutuhan survey yang konsisten, membeli alat bisa menjadi pilihan yang masuk akal. Sebaliknya, untuk proyek jangka pendek, kebutuhan alat tertentu yang hanya digunakan sesekali, atau ketika perusahaan ingin menjaga cash flow, menyewa alat dapat lebih efisien.
Yang perlu dihitung adalah total biaya dan manfaatnya, bukan hanya harga sewanya atau harga belinya.
Kapan Sebaiknya Membeli Alat Survey?
Membeli alat survey biasanya lebih relevan ketika kebutuhan penggunaannya sudah cukup tinggi dan berulang. Contohnya, perusahaan tambang yang setiap hari melakukan pekerjaan seperti:
- Topographic survey
- Stockpile measurement
- Pit mapping
- Mine progress monitoring
- Setting out
- As-built survey
- Volume calculation
- Monitoring perubahan area tambang
Dalam kondisi seperti ini, kepemilikan alat memberikan beberapa keuntungan.
1. Alat selalu tersedia
Tim survey tidak perlu menyesuaikan pekerjaan dengan ketersediaan alat rental. Ini penting ketika pekerjaan harus dilakukan secara rutin atau membutuhkan respons cepat di lapangan.
2. Investasi dapat digunakan dalam banyak proyek
Jika satu perangkat digunakan selama beberapa tahun dan memiliki utilisasi tinggi, biaya investasi dapat menjadi lebih ekonomis dibandingkan menyewa alat secara terus-menerus.
3. Data dan workflow lebih mudah dikontrol
Perusahaan dapat membangun standar penggunaan alat, workflow pengolahan data, serta kompetensi operator secara internal. Namun, membeli alat juga berarti perusahaan harus memperhitungkan maintenance, kalibrasi, software, baterai, spare part, training, penyimpanan, hingga risiko alat idle ketika proyek berkurang.
Jadi, harga beli bukan satu-satunya angka yang perlu dihitung.
Kapan Sewa Alat Survey Lebih Efisien?
Sewa dapat menjadi pilihan menarik ketika kebutuhan alat bersifat project-based.
Misalnya perusahaan hanya membutuhkan GNSS RTK, Total Station, drone mapping, atau perangkat tertentu selama beberapa minggu atau bulan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.
Sewa dapat membantu perusahaan:
- Mengurangi investasi awal
- Menjaga cash flow
- Mendapatkan akses ke teknologi terbaru
- Menyesuaikan jenis alat dengan kebutuhan proyek
- Menghindari aset menganggur setelah proyek selesai
Model ini juga dapat digunakan ketika perusahaan sedang mencoba teknologi baru sebelum memutuskan melakukan pembelian.
Misalnya, daripada langsung membeli perangkat GNSS kelas tertentu, perusahaan dapat menggunakan atau menyewa perangkat tersebut terlebih dahulu untuk melihat apakah performanya benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
Jangan Hanya Membandingkan Harga Beli dengan Harga Sewa
Ini bagian yang sering terlewat.
Misalnya sebuah alat berharga Rp300 juta, sedangkan biaya sewanya Rp15 juta per bulan.
Secara sederhana, orang mungkin langsung menghitung:
Rp300 juta ÷ Rp15 juta = 20 bulan.
Tetapi perhitungan sebenarnya tidak sesederhana itu.
Perusahaan juga perlu memasukkan:
Biaya kepemilikan:
Harga alat + software + maintenance + kalibrasi + training + penyimpanan + risiko downtime + depresiasi
dibandingkan dengan:
Biaya sewa:
Harga rental + transportasi + operator bila diperlukan + mobilisasi/demobilisasi + durasi penggunaan.
Dari sini baru terlihat total cost of ownership (TCO) dan biaya aktual penggunaan alat.
Bagaimana dengan Proyek Tambang?
Pada industri pertambangan, kebutuhan alat survey bisa berubah mengikuti fase pekerjaan. Pada satu periode, kebutuhan GNSS mungkin sangat tinggi. Di periode lain, perusahaan lebih membutuhkan drone mapping, LiDAR, Total Station, atau teknologi monitoring.
Karena itu, pendekatan hybrid juga bisa menjadi pilihan.
Contohnya:
Alat yang digunakan setiap hari → beli
Alat yang hanya dibutuhkan pada proyek tertentu → sewa
Pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus → gunakan jasa survey
Pendekatan seperti ini memungkinkan perusahaan mempertahankan kompetensi inti di internal tanpa harus memiliki seluruh jenis peralatan.
Beli Alat, Sewa Alat, atau Gunakan Jasa?
Sederhananya, pertimbangkan tiga pertanyaan:
1. Seberapa sering alat akan digunakan?
Semakin tinggi utilisasinya, semakin masuk akal mempertimbangkan pembelian.
2. Berapa lama kebutuhan proyek berlangsung?
Untuk kebutuhan singkat atau project-based, rental dapat menjadi alternatif yang lebih fleksibel.
3. Apakah perusahaan memiliki SDM dan workflow untuk mengoperasikan alat tersebut?
Jika belum, menggunakan jasa survey dapat menjadi pilihan yang lebih praktis dibanding hanya menyewa perangkat.
Pada akhirnya, keputusan terbaik bukan selalu membeli atau menyewa.
Yang lebih penting adalah memilih model yang paling sesuai dengan durasi proyek, utilisasi alat, kemampuan tim, kebutuhan teknologi, dan kondisi cash flow perusahaan.
GPS Lands: Tidak Hanya Menjual Alat Survey
Setiap proyek memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, GPS Lands tidak hanya menyediakan berbagai peralatan survey dan mapping, tetapi juga dapat membantu perusahaan menentukan pendekatan yang sesuai melalui penyewaan alat maupun jasa survey dan pemetaan.
Mulai dari GNSS, Total Station, drone mapping, LiDAR, hingga kebutuhan survey dan pemetaan untuk proyek pertambangan, pilihan solusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Jika masih ragu apakah kebutuhan proyek Anda lebih tepat dengan membeli, menyewa, atau menggunakan jasa survey, diskusikan terlebih dahulu kebutuhan proyeknya.
Hubungi GPS Lands untuk mendapatkan rekomendasi solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi proyek Anda. demo Trimble R780.
Di lapangan, pertanyaan seperti ini cukup sering muncul:
“Pak, GNSS Rp100 jutaan dengan yang Rp300 jutaan sebenarnya bedanya apa? Sama-sama RTK, kan?”
Pertanyaan tersebut sangat wajar.
Karena ketika melihat spesifikasi di brosur, beberapa GNSS receiver memang terlihat memiliki fungsi yang hampir sama. Sama-sama RTK, sama-sama menggunakan jaringan GNSS, sama-sama bisa menghasilkan koordinat centimeter-level, dan sama-sama dapat digunakan untuk pekerjaan survey.
Lalu, mengapa harganya bisa berbeda jauh?
Setelah cukup lama bekerja di industri survey dan pemetaan, saya melihat bahwa perbedaan harga GNSS sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa satelit yang bisa ditangkap atau berapa angka akurasi yang tertulis di brosur.
Yang lebih penting adalah:
Seberapa konsisten receiver tersebut menghasilkan data yang dapat dipercaya ketika kondisi lapangan tidak ideal?
Dan di situlah perbedaan kelas GNSS mulai terasa.
Sama-sama RTK, Tetapi Pengalaman di Lapangan Bisa Berbeda
Secara teori, GNSS dengan harga Rp100 juta dan Rp300 juta sama-sama dapat memberikan hasil RTK dengan tingkat akurasi centimeter. Tetapi surveyor tidak bekerja di kondisi laboratorium.
Di lapangan kita bisa menemukan:
- area dengan pepohonan,
- gedung tinggi,
- tebing,
- stockpile,
- area tambang yang luas,
- multipath,
- sinyal komunikasi yang tidak stabil,
- kondisi atmosfer yang berubah,
- baseline yang jauh,
- atau lokasi yang sulit mendapatkan langit terbuka.
Pada kondisi seperti inilah kualitas receiver mulai terlihat.
GNSS yang bagus bukan hanya tentang “bisa mendapatkan fix”, tetapi bagaimana receiver tersebut mempertahankan kualitas pengukuran ketika kondisi lingkungan berubah.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Dibayar Saat Membeli GNSS Rp300 Juta?
Ada beberapa hal yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar melihat harga.
1. Kemampuan Menghadapi Lingkungan Sulit
Receiver GNSS kelas lebih tinggi umumnya menawarkan kombinasi teknologi tracking, pemrosesan sinyal, dan manajemen multipath yang lebih baik.
Mengapa ini penting?
Karena satu titik yang sulit bukan hanya membuat surveyor harus menunggu lebih lama. Jika kondisi tersebut terjadi berkali-kali dalam satu proyek, waktu yang hilang bisa menjadi signifikan.
Dalam pekerjaan survey, waktu crew di lapangan adalah biaya.
2. Stabilitas Fix dan Produktivitas Surveyor
Bagi saya, salah satu ukuran penting GNSS bukan hanya:
“Berapa akurasinya?”
Tetapi:
“Seberapa cepat surveyor bisa mendapatkan koordinat yang dapat digunakan?”
Bayangkan ada 500 titik yang harus diambil. Perbedaan beberapa detik pada satu titik mungkin terlihat kecil. Tetapi ketika dikalikan ratusan atau ribuan titik, perbedaannya bisa menjadi waktu kerja yang cukup besar. Inilah mengapa produktivitas perlu dimasukkan dalam perhitungan investasi GNSS.
3. Tracking dan Pengelolaan Sinyal
GNSS modern bekerja dengan banyak konstelasi dan frekuensi. Namun memiliki kemampuan menerima banyak sinyal saja belum otomatis menjamin hasil survey yang bagus. Receiver juga harus mampu mengolah sinyal tersebut dengan baik ketika terdapat gangguan atau kondisi lingkungan yang tidak ideal.
Jadi jangan hanya bertanya:
“Receiver ini support berapa satelit?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Bagaimana performanya ketika saya membawanya ke kondisi lapangan yang sebenarnya?”
4. Workflow dan Integrasi
Ini bagian yang sering terlupakan ketika orang membandingkan harga GNSS.
GNSS bukan hanya receiver.
Dalam pekerjaan profesional, receiver menjadi bagian dari workflow:
GNSS → Controller → Koreksi RTK → Pengukuran → Data → Software → Deliverable
Semakin kompleks pekerjaan perusahaan, semakin penting integrasi antarbagian tersebut. Untuk perusahaan yang menangani pekerjaan survey rutin, mining, konstruksi, corridor mapping, monitoring, maupun pekerjaan engineering, waktu yang dihabiskan untuk mengatasi masalah workflow juga merupakan biaya.
5. Yang Dibeli Sebenarnya Bukan Hanya Hardware
Ini menurut saya poin yang paling penting.
Ketika perusahaan membeli GNSS Rp100 juta dibandingkan GNSS Rp300 juta, jangan hanya menghitung:
Rp300 juta − Rp100 juta = Rp200 juta lebih mahal.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apa dampaknya terhadap pekerjaan saya selama 3–5 tahun?”
Kalau receiver yang lebih mahal dapat membantu tim:
- bekerja lebih cepat,
- mengurangi pengulangan pengukuran,
- bekerja pada kondisi lapangan yang lebih menantang,
- mengurangi downtime,
- dan menghasilkan workflow yang lebih konsisten,
maka perbandingan harganya harus dilihat dari total cost of ownership dan produktivitas, bukan harga pembelian saja. Sebaliknya, jika pekerjaan perusahaan sebagian besar berada di kondisi terbuka dan kebutuhan survey relatif sederhana, GNSS kelas Rp100 jutaan mungkin sudah mencukupi.
Jadi, GNSS Rp300 juta tidak otomatis cocok untuk semua perusahaan.
Lalu, Di Mana Posisi Trimble R780?
Untuk perusahaan yang membutuhkan GNSS receiver kelas profesional dengan tuntutan pekerjaan yang lebih tinggi, salah satu perangkat yang patut dipertimbangkan adalah Trimble R780. R780 dirancang untuk pekerjaan survey dan positioning profesional, dengan fokus pada reliability, tracking GNSS, dan produktivitas di lapangan.
Bagi perusahaan pertambangan, konstruksi, survey engineering, maupun pemetaan yang mengandalkan data GNSS sebagai bagian penting dari pekerjaan, pendekatannya bukan lagi sekadar:
“Saya butuh GNSS RTK.”
Tetapi:
“Saya membutuhkan GNSS yang dapat saya andalkan ketika pekerjaan di lapangan menjadi sulit.”
Itulah perbedaan cara berpikir ketika perusahaan mulai masuk ke kelas GNSS profesional.
Jadi, Haruskah Membeli GNSS Rp300 Juta?
Belum tentu.
Kalau kebutuhan Anda hanya melakukan pekerjaan survey sederhana di area terbuka, GNSS dengan harga lebih rendah bisa saja sudah memenuhi kebutuhan. Tetapi jika GNSS digunakan untuk pekerjaan yang:
- bernilai besar,
- memiliki target waktu ketat,
- dilakukan setiap hari,
- berada di lingkungan yang menantang,
- membutuhkan produktivitas tinggi,
- atau hasil pengukurannya menjadi dasar pekerjaan engineering,
maka kualitas dan reliability receiver layak menjadi pertimbangan utama. Karena pada akhirnya, biaya terbesar dalam survey sering kali bukan harga alatnya.
Biaya terbesar bisa muncul ketika pekerjaan harus diulang.
Sebelum Membeli GNSS, Coba Hitung Ini
Sebelum menentukan receiver, saya biasanya menyarankan perusahaan melihat tiga hal:
1. Kondisi lapangan
Apakah open sky atau banyak obstruction?
2. Intensitas penggunaan
Apakah GNSS digunakan sesekali atau setiap hari?
3. Nilai pekerjaan
Apakah hasil pengukuran hanya untuk pekerjaan sederhana atau menjadi bagian penting dari proyek bernilai besar?
Dari tiga pertanyaan tersebut, kita bisa menentukan kelas GNSS yang lebih rasional.
Ingin Tahu Apakah Trimble R780 Sesuai untuk Pekerjaan Anda?
Tidak semua perusahaan membutuhkan GNSS kelas premium. Tetapi untuk pekerjaan survey yang menuntut akurasi, reliability, dan produktivitas, pemilihan receiver perlu dilihat dari kondisi pekerjaan yang sebenarnya.
GPS Lands Indosolutions dapat membantu melakukan diskusi teknis berdasarkan jenis pekerjaan, kondisi lapangan, jumlah crew, dan workflow survey perusahaan Anda. Jika saat ini Anda sedang membandingkan GNSS Rp100 jutaan dengan GNSS kelas Rp300 jutaan, jangan hanya bandingkan spesifikasi di brosur.
Ceritakan pekerjaan yang akan Anda lakukan. Dari situ kita bisa melihat apakah investasi seperti Trimble R780 memang memberikan nilai tambah untuk tim Anda.
Hubungi GPS Lands Indosolutions untuk diskusi dan demo Trimble R780.
Ketika perusahaan mulai menggunakan software photogrammetry seperti Agisoft Metashape untuk pekerjaan drone mapping, survey, 3D modeling, atau pengolahan data geospasial, ada satu hal yang sering luput diperhatikan: jenis lisensi software.
Banyak perusahaan langsung fokus pada spesifikasi komputer, drone, kamera, atau jumlah data yang akan diproses. Padahal, cara lisensi digunakan juga perlu disesuaikan dengan pola kerja tim.
Secara umum, terdapat dua pendekatan yang sering menjadi pertimbangan:
Floating License dan Node-Locked License.
Keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu memberikan hak penggunaan software. Perbedaannya terletak pada bagaimana lisensi tersebut digunakan dan dikelola oleh perusahaan.
Lalu, mana yang lebih sesuai untuk kebutuhan perusahaan?
Jawabannya tidak selalu sama. Yang perlu dilihat terlebih dahulu adalah jumlah pengguna, jumlah workstation, pola kerja, dan seberapa sering software digunakan secara bersamaan.
Apa Itu Node-Locked License?
Node-Locked License adalah lisensi yang dikaitkan dengan satu komputer atau workstation tertentu. Artinya, software digunakan pada komputer yang telah ditentukan untuk lisensi tersebut.
Contoh sederhananya:
Sebuah perusahaan memiliki satu engineer yang bertugas melakukan pengolahan data photogrammetry dan memiliki satu workstation khusus. Jika software hanya digunakan pada workstation tersebut, Node-Locked License dapat menjadi pilihan yang sederhana.
Pola penggunaannya kira-kira seperti ini:
1 License → 1 Workstation
Lisensi tidak dirancang untuk digunakan secara bebas berpindah-pindah antar komputer seperti sistem Floating License.
Kapan Node-Locked License lebih relevan?
Model ini biasanya lebih mudah dipahami ketika:
- Software hanya digunakan oleh satu pengguna atau satu workstation.
- Komputer pengolahan data bersifat tetap.
- Perusahaan memiliki workstation khusus untuk photogrammetry.
- Software tidak perlu berpindah-pindah ke komputer lain.
- Penggunaan software relatif terpusat.
Misalnya sebuah perusahaan survey memiliki satu workstation dengan spesifikasi tinggi untuk memproses orthophoto, point cloud, DSM, DTM, dan 3D model. Jika workstation tersebut memang menjadi mesin utama untuk pekerjaan photogrammetry, lisensi yang terikat pada workstation tersebut dapat menjadi solusi yang praktis.
Apa Itu Floating License?
Berbeda dengan Node-Locked License, Floating License memberikan fleksibilitas penggunaan lisensi melalui server lisensi. Dalam skema ini, perusahaan dapat memiliki beberapa komputer atau laptop yang membutuhkan software, sementara lisensi dikelola melalui satu server.
Gambaran sederhananya:
License Server → Mengatur Lisensi → PC/Laptop Pengguna
Misalnya perusahaan mempunyai:
- 1 server lisensi
- 5 engineer
- 5 laptop/workstation
- 2 Floating License
Maka dua engineer dapat menggunakan software secara bersamaan.
Ketika engineer pertama selesai dan melepas lisensinya, lisensi tersebut dapat digunakan oleh engineer lainnya. Jadi, jumlah Floating License menentukan berapa banyak pengguna yang dapat menjalankan software secara bersamaan.
Perbedaan Floating License dan Node-Locked License
Perbedaan paling mudah dipahami adalah pada fleksibilitas penggunaan.
| Faktor | Floating License | Node-Locked License |
|---|---|---|
| Penggunaan | Dapat digunakan dari beberapa komputer yang terhubung ke license server | Terikat pada komputer/workstation tertentu |
| Pengguna | Dapat bergantian menggunakan lisensi | Umumnya digunakan oleh workstation tertentu |
| Penggunaan bersamaan | Sesuai jumlah lisensi yang tersedia | Sesuai lisensi yang dimiliki |
| Server | Membutuhkan license server | Tidak menggunakan konsep server lisensi yang sama |
| Fleksibilitas | Lebih tinggi | Lebih sederhana |
| Cocok untuk | Tim dengan beberapa pengguna/workstation | Pengguna atau workstation tetap |
| Pengelolaan | Membutuhkan konfigurasi jaringan | Relatif lebih sederhana |
Catatan: detail teknis aktivasi, jaringan, dan ketentuan penggunaan dapat berbeda sesuai produk dan versi software. Karena itu, konfigurasi lisensi sebaiknya dikonfirmasi sebelum pembelian.
Contoh Kasus di Perusahaan Survey dan Pemetaan
Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat beberapa kondisi yang umum terjadi di industri.
Kasus 1: Satu Engineer, Satu Workstation
Sebuah perusahaan memiliki satu orang engineer yang bertanggung jawab melakukan pengolahan data drone.
Dia bekerja menggunakan satu workstation khusus.
Software hampir selalu digunakan pada komputer tersebut. Dalam kondisi seperti ini, Node-Locked License dapat menjadi pilihan yang sederhana, karena perusahaan tidak membutuhkan fleksibilitas perpindahan lisensi antar workstation.
Kasus 2: Banyak Engineer, Penggunaan Bergantian
Sebuah perusahaan memiliki lima engineer. Tidak semuanya melakukan processing photogrammetry pada waktu yang sama.
Misalnya:
- Engineer A melakukan processing pagi hari.
- Setelah selesai, Engineer B menggunakan software.
- Siang hari Engineer C membutuhkan software.
- Engineer lainnya menggunakan workstation untuk pekerjaan GIS atau CAD.
Dalam kondisi seperti ini, Floating License dapat memberikan fleksibilitas lebih besar.
Perusahaan tidak harus mengikat satu lisensi secara permanen pada satu workstation jika kebutuhan penggunaannya memang bergantian.
Kasus 3: Beberapa Engineer Membutuhkan Software Bersamaan
Sekarang kondisinya berbeda.
Perusahaan mempunyai lima engineer dan tiga di antaranya sering melakukan processing secara bersamaan. Maka kebutuhan lisensi harus dihitung berdasarkan berapa pengguna yang membutuhkan akses secara bersamaan.
Misalnya perusahaan membutuhkan tiga sesi penggunaan secara bersamaan:
3 pengguna bersamaan → 3 Floating License
Bukan berarti perusahaan hanya boleh memiliki tiga komputer. Komputernya bisa lebih banyak, tetapi jumlah pengguna yang dapat menggunakan lisensi secara bersamaan mengikuti jumlah lisensi yang tersedia.
Jadi, Apakah Floating License Selalu Lebih Baik?
Tidak.
Ini poin yang penting. Floating License bukan otomatis lebih baik daripada Node-Locked License.
Keduanya dibuat untuk kebutuhan penggunaan yang berbeda.
Kalau perusahaan hanya memiliki satu workstation khusus dan software hanya digunakan di sana, sistem yang lebih fleksibel belum tentu memberikan manfaat tambahan yang signifikan. Sebaliknya, jika perusahaan mempunyai banyak engineer dan beberapa workstation yang digunakan bergantian, fleksibilitas Floating License dapat menjadi pertimbangan penting.
Jadi jangan menentukan lisensi hanya berdasarkan istilah “Floating” terdengar lebih fleksibel.
Lihat terlebih dahulu cara kerja tim Anda sehari-hari.
Bagaimana Menentukan Lisensi yang Tepat?
Sebagai praktisi di industri survey dan pemetaan, saya biasanya menyarankan perusahaan menjawab lima pertanyaan sederhana sebelum menentukan skema lisensi.
1. Berapa orang yang menggunakan software?
Apakah hanya satu engineer?
Atau ada lima, sepuluh, bahkan lebih banyak pengguna?
2. Berapa workstation yang digunakan?
Apakah processing dilakukan pada satu workstation?
Atau engineer dapat berpindah menggunakan beberapa komputer?
3. Apakah software digunakan secara bersamaan?
Ini salah satu pertanyaan terpenting.
Jika lima engineer menggunakan software secara bergantian, kebutuhan lisensinya berbeda dengan kondisi ketika lima engineer semuanya melakukan processing secara bersamaan.
4. Apakah workstation bersifat tetap?
Jika engineer selalu menggunakan workstation yang sama, Node-Locked License bisa lebih sederhana. Jika pengguna sering berpindah workstation, Floating License dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar.
5. Bagaimana infrastruktur jaringan perusahaan?
Floating License menggunakan sistem license server sehingga konfigurasi jaringan perlu diperhatikan. Perusahaan perlu memastikan komputer pengguna dapat terhubung ke server lisensi sesuai persyaratan software.
Jangan Hanya Menghitung Jumlah Komputer
Kesalahan yang cukup sering terjadi ketika perusahaan membeli software adalah menghitung:
“Kami punya 5 komputer, berarti harus membeli 5 lisensi.”
Padahal belum tentu.
Yang lebih penting adalah mengetahui:
Berapa orang yang benar-benar membutuhkan software pada saat yang sama?
Contohnya:
Perusahaan mempunyai 5 workstation, tetapi hanya 2 engineer yang biasanya melakukan processing photogrammetry secara bersamaan. Dengan skema Floating License, kebutuhan lisensi dapat dihitung berdasarkan penggunaan bersamaan tersebut, sesuai ketentuan lisensi software yang dipilih.
Inilah salah satu alasan mengapa pola kerja perusahaan perlu dipahami sebelum menentukan jenis lisensi.
Bagaimana dengan Perusahaan yang Sedang Berkembang?
Untuk perusahaan survey, mapping, mining, konstruksi, dan drone service, kebutuhan software biasanya berkembang seiring bertambahnya proyek.
Awalnya mungkin hanya ada satu engineer.
Kemudian menjadi tiga engineer.
Lalu perusahaan memiliki beberapa workstation dan mulai menangani beberapa proyek secara paralel.
Karena itu, perencanaan lisensi sebaiknya tidak hanya melihat kondisi hari ini, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana software akan digunakan dalam pekerjaan perusahaan ke depannya. Namun, perusahaan juga tidak perlu membeli lisensi berlebihan sejak awal jika penggunaannya memang belum membutuhkan.
Pendekatan yang lebih rasional adalah menghitung kebutuhan aktual dan pola penggunaan.
Floating License vs Node-Locked: Mana yang Cocok untuk Perusahaan Anda?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua perusahaan.
Secara sederhana:
Pilih Node-Locked License jika:
- Software digunakan pada workstation tertentu.
- Jumlah pengguna sedikit.
- Workstation bersifat tetap.
- Tidak membutuhkan perpindahan lisensi antar komputer.
Pertimbangkan Floating License jika:
- Ada beberapa engineer yang menggunakan software.
- Terdapat beberapa workstation.
- Pengguna membutuhkan software secara bergantian.
- Perusahaan membutuhkan fleksibilitas penggunaan lisensi.
- Beberapa pengguna membutuhkan akses secara bersamaan dan perusahaan ingin mengatur jumlah akses berdasarkan jumlah lisensi.
Yang perlu diingat, Floating License tidak berarti satu lisensi dapat digunakan oleh banyak orang secara bersamaan.
Jika perusahaan hanya memiliki satu Floating License, maka hanya satu penggunaan lisensi yang dapat aktif pada satu waktu. Jika memiliki dua lisensi, dua penggunaan dapat berjalan bersamaan, dan seterusnya, sesuai ketentuan produk.
Kesimpulan
Memilih lisensi software photogrammetry bukan hanya persoalan membeli software, tetapi juga bagaimana software tersebut akan digunakan oleh tim. Node-Locked License lebih berorientasi pada penggunaan pada workstation tertentu.
Sementara Floating License memberikan fleksibilitas pengelolaan lisensi melalui license server untuk beberapa komputer atau pengguna.
Untuk menentukan pilihan yang sesuai, jangan hanya bertanya:
“Berapa harga lisensinya?”
Tetapi tanyakan juga:
“Berapa orang yang menggunakan software, berapa workstation yang tersedia, dan berapa orang yang membutuhkan software secara bersamaan?”
Dari tiga informasi tersebut, kebutuhan lisensi biasanya menjadi jauh lebih mudah dipetakan.
Butuh Bantuan Menentukan Lisensi Agisoft Metashape?
Setiap perusahaan memiliki pola kerja yang berbeda. Tim survey, drone mapping, pertambangan, konstruksi, maupun konsultan geospasial dapat memiliki kebutuhan lisensi yang berbeda pula.
GPS Lands Indosolutions dapat membantu mendiskusikan kebutuhan software photogrammetry berdasarkan jumlah pengguna, workstation, dan pola penggunaan di perusahaan Anda.
Jika Anda masih bingung apakah kebutuhan perusahaan lebih sesuai dengan Floating License atau Node-Locked License, konsultasikan terlebih dahulu kebutuhan tim Anda sebelum menentukan lisensi.
Hubungi GPS Lands Indosolutions untuk diskusi kebutuhan Agisoft Metashape dan solusi software pemetaan untuk perusahaan Anda. Anda.
Agisoft Metashape Floating License adalah skema lisensi software yang memungkinkan Agisoft Metashape digunakan di beberapa komputer atau laptop, tanpa harus membeli lisensi permanen untuk setiap perangkat.
Berbeda dengan lisensi yang hanya terikat pada satu komputer, Floating License menggunakan satu komputer atau server sebagai pengelola lisensi. Server tersebut akan mengatur komputer mana yang sedang menggunakan lisensi Agisoft Metashape.
Bagaimana Cara Kerja Agisoft Metashape Floating License?
Sederhananya, sistemnya seperti “meminjam” lisensi dari server.
Satu komputer ditetapkan sebagai server lisensi. Kemudian laptop atau PC lain yang ingin menjalankan Agisoft Metashape akan meminta akses lisensi kepada server tersebut.
Alurnya:
Server Lisensi → Mengatur License → PC/Laptop Pengguna → Menjalankan Agisoft Metashape
Karena lisensi dikelola melalui jaringan, server dan komputer yang menggunakan lisensi harus berada dalam jaringan yang dapat saling terhubung, misalnya melalui jaringan Wi-Fi atau jaringan lokal yang sama.
Yang penting bukan sekadar menggunakan Wi-Fi yang sama, tetapi komputer pengguna harus dapat terhubung ke server lisensi.
Apakah Floating License Bisa Digunakan di Banyak Laptop?
Bisa.
Salah satu kelebihan Floating License adalah lisensi dapat digunakan pada beberapa komputer yang berbeda secara bergantian.
Misalnya perusahaan memiliki:
- 1 komputer server
- 3 laptop engineer
- 1 lisensi Agisoft Metashape Floating License
Ketiga laptop tersebut dapat digunakan untuk menjalankan Agisoft Metashape, tetapi hanya satu laptop yang dapat menggunakan 1 lisensi tersebut pada satu waktu.
Ketika laptop pertama selesai menggunakan lisensi dan melepaskannya, lisensi dapat digunakan oleh laptop berikutnya.
Bagaimana Jika Membeli Lebih dari 1 Floating License?
Jumlah lisensi menentukan berapa banyak komputer yang dapat menggunakan Agisoft Metashape secara bersamaan.
Contohnya:
| Jumlah Lisensi | Penggunaan Bersamaan |
|---|---|
| 1 Floating License | 1 PC/Laptop |
| 3 Floating License | 3 PC/Laptop |
| 5 Floating License | 5 PC/Laptop |
Jadi, apabila perusahaan memiliki 3 Floating License, tiga komputer dapat menjalankan Agisoft Metashape secara bersamaan.
Namun, ketiga komputer tersebut tetap menggunakan sistem server yang sama untuk mengatur lisensinya.
Apa Arti Single License?
Jika yang dibeli adalah 1 lisensi, maka pada saat yang sama hanya 1 komputer yang dapat menggunakan lisensi tersebut.
Bukan berarti lisensinya hanya bisa dipasang di satu laptop selamanya.
Komputer yang menggunakan lisensi dapat berganti-ganti, selama lisensi tersebut tersedia dan komputer pengguna dapat terhubung ke server lisensi.
Contohnya:
Senin: Engineer A menggunakan laptop A
Selasa: Engineer B menggunakan laptop B
Rabu: Engineer C menggunakan laptop C
Dengan satu Floating License, penggunaan tersebut dapat dilakukan secara bergantian.
Yang tidak dapat dilakukan adalah:
Laptop A + Laptop B menggunakan satu lisensi secara bersamaan.
Apakah Server Harus Selalu Menyala?
Ya, server lisensi harus aktif ketika lisensi sedang digunakan.
Karena server bertugas mengatur dan memberikan akses lisensi kepada komputer pengguna, maka:
Server OFF → PC/Laptop tidak dapat memperoleh lisensi dari server.
Oleh karena itu, jika perusahaan menggunakan Agisoft Metashape Floating License, komputer yang dijadikan server sebaiknya merupakan perangkat yang dapat menyala dan terhubung ke jaringan selama jam kerja.
Contoh Penggunaan di Perusahaan
Misalnya sebuah perusahaan memiliki 5 orang engineer yang bekerja menggunakan Agisoft Metashape.
Perusahaan membeli:
1 Agisoft Metashape Floating License
Maka kelima engineer dapat menggunakan lisensi tersebut secara bergantian.
Namun jika perusahaan ingin 3 engineer menjalankan Agisoft Metashape secara bersamaan, perusahaan membutuhkan:
3 Floating License.
Dengan demikian, kebutuhan jumlah lisensi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah pengguna yang membutuhkan software secara bersamaan, bukan hanya jumlah laptop yang dimiliki.
Floating License Cocok untuk Siapa?
Agisoft Metashape Floating License dapat menjadi pilihan bagi perusahaan yang memiliki beberapa komputer atau engineer, tetapi tidak semua engineer membutuhkan software secara bersamaan.
Contohnya:
- Perusahaan survey dan mapping
- Kontraktor pertambangan
- Konsultan geospasial
- Perusahaan konstruksi
- Perusahaan drone mapping
- Tim GIS dan photogrammetry
- Institusi pendidikan dan laboratorium
Skema ini memberikan fleksibilitas karena lisensi dapat digunakan pada komputer yang berbeda sesuai kebutuhan pekerjaan.
Kesimpulan
Agisoft Metashape Floating License adalah lisensi yang dikelola melalui server dan dapat digunakan pada beberapa PC atau laptop secara bergantian.
Hal terpenting yang perlu dipahami:
- Satu PC/server digunakan untuk mengelola lisensi.
- PC/laptop pengguna harus dapat terhubung ke server lisensi.
- Server harus aktif ketika lisensi sedang digunakan.
- 1 lisensi = 1 komputer yang dapat menggunakan lisensi pada satu waktu.
- 2 lisensi = maksimal 2 komputer dapat menggunakan lisensi secara bersamaan.
- Laptop yang menggunakan lisensi dapat berganti-ganti, selama lisensi tersedia dan koneksi ke server berjalan.
Ingin Mengetahui Floating License yang Sesuai untuk Tim Anda?
Jika perusahaan memiliki beberapa engineer atau workstation untuk pekerjaan photogrammetry, drone mapping, 3D modeling, dan pemetaan, kebutuhan lisensi dapat disesuaikan dengan jumlah pengguna yang bekerja secara bersamaan.
Hubungi tim GPS Lands Indosolutions untuk berdiskusi mengenai kebutuhan Agisoft Metashape, software photogrammetry, dan solusi pemetaan untuk kebutuhan perusahaan Anda.
Bagi perusahaan manufaktur, memonitor area pabrik bukan hanya soal keamanan. Perubahan kondisi di perimeter, warehouse, area produksi, raw material yard, utilitas, hingga fasilitas pendukung dapat berdampak pada operasional jika tidak diketahui sejak awal.
Masalahnya, melakukan inspeksi secara manual setiap hari membutuhkan waktu, tenaga, dan koordinasi. Untuk area pabrik dengan luas sekitar 10–20 hektar, misalnya, tim harus berulang kali berpindah lokasi hanya untuk mendapatkan gambaran kondisi terbaru.
Di sinilah konsep automated aerial monitoring menggunakan DJI Dock 3 mulai menarik untuk dipertimbangkan.
DJI Dock 3 merupakan sistem drone-in-a-box yang memungkinkan operasi drone secara remote dan terjadwal. Ketika dipadukan dengan DJI Matrice 4D atau Matrice 4TD serta FlightHub 2, misi penerbangan dapat direncanakan dan dijalankan secara berulang tanpa operator harus selalu membawa dan menerbangkan drone dari lapangan. DJI juga mendokumentasikan penggunaan sistem ini untuk inspeksi rutin, termasuk operasi visual dan thermal secara remote.
Apakah DJI Dock 3 Cocok untuk Area Pabrik 10–20 Hektar?
Secara cakupan area, 10–20 hektar bukanlah tantangan utama bagi DJI Dock 3.
Sebagai gambaran, 10 hektar setara dengan sekitar 100.000 m², sedangkan 20 hektar sekitar 200.000 m². Jika area tersebut terkonsentrasi dalam satu kompleks, luas tersebut relatif kecil dibandingkan kemampuan operasi DJI Dock 3 yang memiliki radius operasi hingga 10 km menurut spesifikasi DJI.
Namun, alasan perusahaan menggunakan Dock 3 sebaiknya bukan karena “bisa menjangkau 20 hektar”.
Nilai sebenarnya muncul ketika area tersebut harus dipantau secara berulang, dengan rute yang konsisten, tanpa mengirim operator drone setiap kali inspeksi diperlukan.
Dengan kata lain, yang dibangun bukan sekadar sistem penerbangan drone, tetapi sistem monitoring area pabrik secara berkala.
Dari Drone Manual Menjadi Automated Factory Monitoring
Dalam operasi konvensional, ketika management membutuhkan kondisi terbaru area pabrik, perusahaan biasanya harus:
- Menugaskan personel ke lokasi.
- Menyiapkan drone.
- Melakukan penerbangan.
- Mengambil foto atau video.
- Memindahkan data.
- Memeriksa hasilnya.
- Membuat laporan.
Untuk inspeksi yang dilakukan berulang, proses tersebut dapat menjadi pekerjaan rutin yang cukup memakan waktu.
Dengan DJI Dock 3, pendekatannya berubah.
Rute penerbangan dapat dirancang berdasarkan kebutuhan monitoring, kemudian dijadwalkan untuk dijalankan secara berkala melalui FlightHub 2. Data hasil penerbangan dapat dikirim ke platform untuk kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan hasil monitoring sebelumnya. DJI juga menyediakan workflow untuk inspeksi berulang dan analisis kondisi melalui FlightHub 2.
Dengan demikian, perusahaan dapat mulai membangun pola:
Scheduled Flight → Data Collection → Analysis → Comparison → Inspection → Action
Bukan sekadar:
Fly → Take Photo → Store Data.
Apa Saja yang Bisa Dimonitor di Area Manufaktur?
Untuk area sekitar 10–20 hektar, monitoring tidak harus dilakukan dengan satu pola penerbangan untuk seluruh lokasi. Area dapat dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan tingkat kepentingannya.
1. Perimeter dan Area Keamanan
Drone dapat digunakan untuk melakukan patroli udara secara berkala di:
- perimeter pagar,
- access road,
- gate,
- area parkir,
- area terbuka,
- dan zona yang sulit dipantau dari kamera CCTV.
DJI secara khusus memposisikan Dock 3 dan Matrice 4TD untuk scheduled aerial patrols dan remote security monitoring. Sistem visual dan thermal juga dapat memberikan perspektif tambahan terhadap kondisi yang mungkin tidak terlihat dari sistem keamanan di darat.
Namun, drone sebaiknya diposisikan sebagai lapisan tambahan dalam sistem keamanan, bukan pengganti seluruh sistem security yang sudah ada.
2. Warehouse dan Raw Material Yard
Area penyimpanan outdoor sering mengalami perubahan layout. Dengan penerbangan yang dilakukan menggunakan rute yang konsisten, perusahaan dapat memperoleh dokumentasi berkala mengenai:
- perubahan posisi material,
- kondisi area penyimpanan,
- aktivitas kendaraan,
- akses jalan,
- dan perubahan layout area.
Data tersebut juga dapat menjadi dokumentasi visual untuk membantu tim operation memahami kondisi aktual di lapangan.
3. Production dan Utility Area
Area seperti:
- cooling tower,
- tank,
- pipeline,
- rooftop,
- utility building,
- conveyor,
- panel atau fasilitas kelistrikan outdoor,
dapat menjadi target inspeksi yang lebih spesifik.
Untuk kebutuhan seperti ini, Matrice 4TD menjadi menarik karena memiliki kamera thermal selain kamera visual. DJI sendiri mendokumentasikan penggunaan Dock 3 + Matrice 4TD untuk automated visual dan thermal inspection pada berbagai aplikasi industri.
Thermal imaging dapat membantu menemukan indikasi anomali temperatur yang kemudian dapat ditindaklanjuti oleh tim maintenance. Hasil thermal tetap perlu diinterpretasikan sesuai kondisi aset dan SOP inspeksi perusahaan; citra thermal bukan otomatis merupakan diagnosis kerusakan.
4. Monitoring Proyek Ekspansi Pabrik
Jika perusahaan sedang membangun:
- warehouse baru,
- production line,
- utility facility,
- solar panel,
- jalan internal,
- atau fasilitas lainnya,
drone dapat menjalankan misi yang sama secara berkala. Hasilnya dapat menjadi dokumentasi visual perkembangan proyek dari minggu ke minggu.
Pendekatan seperti ini lebih bernilai dibandingkan sekadar mengambil foto udara sesekali karena perusahaan memiliki data historis dengan pola pengambilan yang lebih konsisten.
Mengapa Matrice 4TD Menarik untuk Manufaktur?
Pilihan drone sebaiknya mengikuti kebutuhan monitoring.
Jika kebutuhan utamanya adalah mapping, dokumentasi area, dan inspeksi visual, Matrice 4D dapat menjadi salah satu opsi. Namun, apabila perusahaan ingin menggabungkan visual inspection dengan thermal monitoring, Matrice 4TD menjadi lebih relevan.
DJI mencantumkan Matrice 4TD dengan kamera wide-angle, medium tele, tele, laser rangefinder, serta thermal imager 640×512. Drone ini juga memiliki rating IP55 dan waktu terbang maksimum hingga 54 menit dalam kondisi pengujian DJI. Kondisi aktual di lapangan dapat berbeda tergantung lingkungan, misi, dan konfigurasi operasi.
Artinya, satu platform dapat digunakan untuk beberapa kebutuhan monitoring tanpa harus membangun sistem drone yang berbeda untuk setiap jenis inspeksi.
Contoh Skema Monitoring Pabrik 20 Hektar
Misalkan sebuah kompleks manufaktur memiliki area 20 hektar. Alih-alih membuat satu misi besar untuk seluruh area, monitoring dapat dibagi menjadi beberapa mission:
Mission 1 – Perimeter Patrol
Memantau pagar, gate, access road, dan area terbuka.
Mission 2 – Factory Overview
Mengambil gambaran kondisi production area, warehouse, parking, dan internal road.
Mission 3 – Critical Asset Inspection
Melakukan inspeksi terhadap aset tertentu seperti utility, rooftop, solar panel, tank, atau electrical area.
Mission 4 – Project Monitoring
Digunakan ketika perusahaan sedang melakukan pembangunan atau ekspansi fasilitas.
Frekuensi penerbangan kemudian dapat disesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Tidak semua area harus diterbangkan setiap hari. Pendekatan tersebut membuat sistem menjadi lebih efisien karena frekuensi monitoring mengikuti tingkat kritikalitas aset, bukan sekadar luas area.
Yang Lebih Penting dari Drone: Bagaimana Data Digunakan
Inilah bagian yang sering terlewat ketika perusahaan membahas drone monitoring.
Foto dan video saja belum tentu memberikan nilai bisnis.
Nilainya muncul ketika data tersebut digunakan untuk menjawab pertanyaan:
Apa yang berubah?
Misalnya, kondisi area minggu ini dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Dari sana proses dapat berkembang menjadi:
Observation
Apa yang terlihat?
↓
Comparison
Apa yang berubah?
↓
Detection
Apakah perubahan tersebut perlu diperiksa?
↓
Inspection
Apa penyebabnya?
↓
Action
Apa tindakan yang perlu dilakukan?
DJI FlightHub 2 juga menyediakan kemampuan analisis dan mendukung integrasi algoritma pihak ketiga untuk kebutuhan tertentu, sehingga workflow dapat dikembangkan lebih jauh sesuai kebutuhan perusahaan. Inilah yang membedakan drone monitoring dengan sekadar drone photography.
Apakah Satu DJI Dock 3 Cukup?
Untuk satu kompleks pabrik dengan area sekitar 10–20 hektar yang lokasinya terkonsentrasi, satu Dock dapat menjadi titik awal yang masuk akal dari sisi coverage.
Namun, jumlah Dock sebaiknya ditentukan berdasarkan:
- lokasi fasilitas,
- jarak antar-area,
- frekuensi monitoring,
- jumlah critical asset,
- kebutuhan simultaneous operation,
- kondisi komunikasi,
- dan kebutuhan operasional perusahaan.
Jadi, luas area bukan satu-satunya parameter.
Sebuah pabrik 10 hektar dengan kebutuhan inspeksi sangat tinggi bisa saja membutuhkan konfigurasi yang lebih kompleks dibandingkan fasilitas 20 hektar yang hanya membutuhkan monitoring beberapa kali dalam seminggu.
Dari “Drone” Menjadi Sistem Monitoring Pabrik
Pada akhirnya, perusahaan manufaktur tidak sebenarnya membeli sebuah drone untuk sekadar mengambil gambar dari udara.
Yang dibutuhkan adalah informasi kondisi area yang lebih cepat, konsisten, dan dapat digunakan untuk mendukung keputusan operasional. Karena itu, implementasi DJI Dock 3 sebaiknya dirancang sebagai satu sistem:
DJI Dock 3
↓
Matrice 4D / 4TD
↓
Automated Flight Mission
↓
DJI FlightHub 2
↓
Visual & Thermal Data
↓
Comparison / Analysis
↓
Inspection Report
↓
Maintenance & Operational Decision
Pendekatan seperti ini juga memungkinkan perusahaan memulai dari satu use case terlebih dahulu, kemudian mengembangkan sistem sesuai kebutuhan.
Apakah Pabrik Anda Membutuhkan Automated Drone Monitoring?
DJI Dock 3 akan semakin relevan apabila perusahaan memiliki:
- area industri 10–20 hektar atau lebih,
- kebutuhan inspeksi berulang,
- perimeter yang luas,
- banyak outdoor assets,
- area yang sulit atau berisiko diperiksa secara manual,
- kebutuhan thermal inspection,
- proyek ekspansi fasilitas,
- atau kebutuhan dokumentasi kondisi area secara berkala.
Sebelum menentukan konfigurasi, sebaiknya dilakukan site assessment terlebih dahulu untuk memetakan area, obstacle, lokasi Dock, kebutuhan mission, critical assets, konektivitas, serta kebutuhan operasional dan keselamatan penerbangan.
GPS Lands Indosolutions dapat membantu perusahaan mulai dari identifikasi kebutuhan, penyusunan skenario monitoring, pemilihan konfigurasi DJI Dock 3 dan Matrice 4D/4TD, flight planning, hingga implementasi dan pengembangan workflow monitoring.
Jika perusahaan Anda memiliki area manufaktur sekitar 10–20 hektar dan sedang mempertimbangkan automated monitoring, diskusikan terlebih dahulu kebutuhan dan kondisi site Anda. Dari sana, konfigurasi sistem dapat ditentukan berdasarkan use case dan kebutuhan operasional, bukan hanya berdasarkan spesifikasi drone software yang digunakan. Setelah itu baru ditentukan konfigurasi hardware dan layanan yang sesuai.