Sept – 26 Ketika kebutuhan pemetaan semakin luas, medan semakin sulit dijangkau, dan data lapangan harus tersedia lebih cepat, tantangannya bukan lagi sekadar memilih drone dengan kamera beresolusi tinggi.

Yang lebih penting adalah bagaimana mendapatkan data udara yang cukup luas, akurat, konsisten, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Di sinilah RAYBE Fixed-Wing VTOL dari BETA-UAS menjadi relevan.

RAYBE dirancang sebagai platform medium VTOL untuk remote sensing, dengan kombinasi efisiensi fixed-wing dan fleksibilitas Vertical Take-Off and Landing (VTOL). Konfigurasi ini memungkinkan drone beroperasi tanpa membutuhkan runway panjang, termasuk pada lokasi yang memiliki keterbatasan area untuk take-off dan landing.

https://images.openai.com/static-rsc-4/v8DkXOFs3WxXJFiP6F3EcrO7SrCU0kHccskSD05dpgjSYmyP17lJ1UM_7CCp0tJpuWVlv2nGNgWGVSbf22tI8A-LhM2Tgt44OL3xmVItFRS_hwYL_N5wy28sB6wafSYOGivlfmfd5T3RgoCrjeM_Vltm_vHvTrmTR-edMPrG01iOfqJEnAnReVD1zF2PnwAq?purpose=fullsize
Mengapa RAYBE Relevan untuk Kebutuhan Pemetaan Indonesia?

Indonesia memiliki karakter geografis yang membuat pekerjaan pemetaan udara tidak selalu sederhana.

Hutan yang rapat, kawasan perkebunan yang luas, area tambang, koridor infrastruktur, wilayah rawan bencana, hingga lokasi terpencil membutuhkan pendekatan survei yang berbeda.

Pada kondisi seperti ini, multirotor tetap sangat berguna untuk inspeksi detail dan area yang relatif kecil. Namun, ketika kebutuhan mulai bergeser ke pemetaan area menengah hingga luas, fixed-wing VTOL menawarkan pendekatan yang berbeda.

RAYBE menggabungkan:

Secara spesifikasi publik, RAYBE memiliki maximum flight time hingga 50 menit, telemetry hingga 8 km, dan maximum mapping coverage hingga 300 hektare, dengan dukungan RTK/PPK.

Namun, angka tersebut bukan berarti setiap misi otomatis akan mencapai 300 hektare.

Luas cakupan aktual sangat bergantung pada sensor, GSD, overlap, ketinggian terbang, kondisi angin, terrain, serta desain mission planning.

Dan justru di sinilah konsultasi teknis menjadi penting.

Dari Drone ke Data: RAYBE untuk Aerial Intelligence

Kesalahan umum dalam memilih drone adalah memulai dari pertanyaan:

“Drone apa yang harus dibeli?”

Pendekatan yang lebih tepat adalah:

“Data apa yang ingin kita dapatkan, dari area sebesar apa, dalam kondisi seperti apa, dan untuk keputusan apa?”

Karena kebutuhan pemetaan kehutanan tidak sama dengan kebutuhan pemetaan tambang.

Kebutuhan assessment karhutla juga berbeda dengan inspeksi infrastruktur.

Begitu pula kebutuhan BPKH, pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, perusahaan tambang, maupun konsultan survei.

Karena itu, RAYBE sebaiknya dilihat sebagai bagian dari sebuah workflow aerial mapping, bukan hanya sebagai airframe.

Workflow yang kami rekomendasikan:

Detect → Plan → Fly → Capture → Process → Analyze → Decide

Data dari satelit, GIS, hotspot atau informasi lapangan dapat digunakan untuk menentukan area prioritas.

https://images.openai.com/static-rsc-4/xEBb-X_Lh4fq9fnuUgqFhwMfrNil8mjknSy4oAmy2yJr-LwhlZfi9moWAyxbqELsw5beADrVHKsuigfjZiW4GF-EGJ76P0_-OVfWtqQbOw0XG-mWKkQRa_mx7e-s7mSorPceZyuvcmWAFnuoIY0s-z6B213dSE9JyV8XmevSQGhpAYWG5ha5exQUuWmt-Nxv?purpose=fullsize

RAYBE kemudian digunakan untuk melakukan targeted aerial survey pada area yang membutuhkan resolusi dan informasi lebih detail.

Hasilnya dapat diproses menjadi:

Dengan pendekatan ini, drone bukan menjadi tujuan akhir.

Drone adalah alat untuk menghasilkan data yang dapat digunakan.

RAYBE untuk Kehutanan dan BPKH

Salah satu area penggunaan RAYBE yang sangat relevan adalah pemetaan dan monitoring kawasan kehutanan.

Area hutan yang luas sering memiliki keterbatasan akses untuk survei darat. Pada kondisi tertentu, surveyor membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar hanya untuk mencapai lokasi.

RAYBE dapat digunakan sebagai platform pengumpulan data udara untuk:

1. Pemetaan kawasan hutan

Mendukung pembuatan orthophoto, model elevasi, dan basis data spasial kawasan.

2. Monitoring perubahan tutupan lahan

Data udara dapat dibandingkan secara periodik untuk melihat perubahan kondisi kawasan.

3. Inventarisasi area

Mendukung pengumpulan data spasial pada area yang luas dan sulit dijangkau.

4. Monitoring batas dan koridor

Data aerial dapat digunakan sebagai informasi pendukung untuk pemeriksaan kawasan dan koridor tertentu.

5. Dokumentasi kondisi lapangan

Membantu menyediakan visual dan data spasial yang lebih aktual sebagai pelengkap data existing.

Bagi instansi yang mengelola kawasan luas, nilai utama bukan hanya pada kemampuan drone terbang.

Nilainya terletak pada kemampuan mengubah area yang sulit dijangkau menjadi data spasial yang dapat dianalisis.

RAYBE untuk Karhutla: Dari Hotspot ke Verifikasi Lapangan

Karhutla merupakan salah satu contoh paling jelas mengapa integrasi antara data skala luas dan data resolusi tinggi diperlukan.

Pada September 2026, BMKG masih melaporkan tingginya konsentrasi hotspot di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Hingga 21 September, Kalimantan Tengah tercatat memiliki 5.283 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, disusul Sumatera Selatan 1.485 dan Kalimantan Barat 1.357.

https://images.openai.com/static-rsc-4/BFMtFk63L1OxL70tKuQ5WiUnM6x73_rpVQHnTc3FfWlnE6opnE5VkYlD4YdT76oPQsppGN9sWHumwld-3pe1n5A6u_5Sc7CLWQG_eLdh61VBvgvOBiuuRGTXl_cyrXgklc_AvSaKeNLay-uMSc8bz5GD-1UxH94xh3qrQOESHZjEcduYD6M1OPJmJZyAr047?purpose=fullsize

BNPB juga menekankan pentingnya penanganan karhutla dari fase pencegahan, deteksi dini hingga pemulihan pascakebakaran, sementara hotspot sendiri perlu diverifikasi karena tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran. Di sinilah drone dapat berperan sebagai lapisan data di antara satellite intelligence dan ground verification.

Satellite

Memberikan awareness terhadap area yang luas.

↓

RAYBE

Melakukan targeted aerial mapping pada area prioritas.

↓

Ground Team

Melakukan verifikasi kondisi aktual.

↓

GIS & Processing

Mengubah data menjadi informasi spasial.

↓

Decision Making

Menentukan tindakan, prioritas, monitoring atau assessment lanjutan. Dengan pendekatan tersebut, RAYBE bukan diklaim sebagai alat yang “mencegah kebakaran”.

RAYBE membantu menyediakan data udara untuk mendukung assessment, pemetaan dan monitoring area yang menjadi perhatian.

Tidak Hanya RGB: Pilihan Sensor Mengikuti Kebutuhan Misi

Salah satu aspek penting RAYBE adalah konsep swappable sensor.

BETA secara resmi menjelaskan bahwa RAYBE memiliki sistem payload modular yang memungkinkan sensor diganti sesuai kebutuhan pemetaan. Halaman produk publik BETA saat ini mencantumkan kamera RGB 20 MP dan 24 MP serta pilihan lensa 16 mm, 25 mm, dan 35 mm APS-C.

Dalam pengembangan konfigurasi misi, kebutuhan pengguna dapat diarahkan pada kelas sensor yang berbeda.

RGB 20 MP

Cocok untuk kebutuhan pemetaan fotogrametri yang mengutamakan efisiensi investasi dan workflow pemetaan umum.

RGB 42 MP

Untuk kebutuhan yang memerlukan resolusi kamera lebih tinggi. Konfigurasi RAYBE 42 MP juga telah dipasarkan untuk kebutuhan pemetaan.

RGB resolusi tinggi hingga kelas 61 MP

Untuk kebutuhan tertentu yang membutuhkan detail citra lebih tinggi, konfigurasi kamera dapat dibahas berdasarkan payload, endurance, GSD dan target area.

Thermal

Untuk misi yang membutuhkan informasi temperatur sebagai bagian dari assessment, seperti monitoring area tertentu, assessment pascakejadian, inspeksi atau environmental monitoring, konfigurasi thermal dapat dipertimbangkan berdasarkan kompatibilitas payload dan kebutuhan operasional.

Penting: sensor bukan dipilih berdasarkan angka megapixel semata.

Kamera 20 MP belum tentu “kurang” dibanding 61 MP jika kebutuhan GSD, luas area, waktu terbang, processing dan deliverable sudah terpenuhi.

Sebaliknya, sensor resolusi tinggi juga tidak otomatis menjadi pilihan yang tepat untuk setiap pekerjaan.

Karena itu, GPS Lands membantu pengguna menentukan konfigurasi berdasarkan:

Area → GSD → Altitude → Overlap → Sensor → Endurance → RTK/PPK → Processing → Deliverable.

RAYBE untuk Mitigasi Bencana

Selain karhutla, platform VTOL seperti RAYBE memiliki relevansi untuk berbagai pekerjaan disaster mapping dan rapid assessment.

BNPB pada September 2026 masih melaporkan kejadian karhutla, longsor, banjir, kekeringan dan berbagai bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Pada beberapa lokasi, akses menuju area terdampak menjadi salah satu tantangan operasional.

RAYBE dapat dipertimbangkan untuk mendukung:

Longsor
Banjir
Letusan gunung api
Karhutla

Dalam konteks kebencanaan, kecepatan memperoleh data sering sama pentingnya dengan detail data itu sendiri.

RAYBE untuk Tambang, Perkebunan dan Infrastruktur

RAYBE juga dapat ditempatkan dalam workflow industri yang membutuhkan pemetaan area luas secara berkala.

Pertambangan

RAYBE dapat mendukung:

Perkebunan

Untuk area perkebunan, aerial mapping dapat mendukung:

Infrastruktur

Untuk proyek infrastruktur dan kawasan luas:

GPS Lands sendiri menempatkan RAYBE dalam beberapa kategori solusi, termasuk pertambangan, perkebunan & kehutanan, serta infrastruktur & transportasi.

Kapan Memilih VTOL dan Kapan Menggunakan Multirotor?

Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan merek drone.

KebutuhanFixed-Wing VTOLMultirotor
Area menengah–luas✓✓
Take-off area terbatas✓✓
Efisiensi pemetaan✓△
Inspeksi detail△✓
Hover lama di satu titik△✓
Mapping area luas✓△
Detail objek dekat△✓
Rapid inspection△✓

Artinya, RAYBE bukan pengganti semua jenis drone.

Dalam banyak workflow profesional, justru kombinasi beberapa platform memberikan hasil yang lebih baik:

Satellite → RAYBE → Multirotor → GNSS/Ground Survey → GIS

Satellite memberikan perspektif luas.

RAYBE melakukan pemetaan area prioritas.

Multirotor melakukan inspeksi detail.

GNSS atau survey terestris melakukan verifikasi presisi.

Kemudian seluruh data diintegrasikan menjadi informasi geospasial.

Inilah pendekatan yang kami sebut sebagai Aerial Intelligence Workflow.

Mengapa Memilih RAYBE melalui GPS Lands?

RAYBE bukan produk baru bagi GPS Lands.

Pada 22 November 2024, BETA-UAS menyerahkan unit RAYBE kepada PT GPS Lands Indosolutions sebagai bagian dari kerja sama distribusi resmi. Kerja sama tersebut juga mencakup training pengoperasian, maintenance dan aplikasi teknis agar GPS Lands dapat memberikan dukungan kepada end-user.

Artinya, ketika Anda berdiskusi dengan GPS Lands mengenai RAYBE, pembahasannya tidak berhenti pada:

“Berapa harga drone?”

Kami dapat membantu mulai dari:

01 — Mission Assessment

Memahami area, terrain, target data dan tujuan pekerjaan.

02 — Sensor Selection

Menentukan RGB, resolusi kamera, lensa, thermal atau konfigurasi lain yang sesuai.

03 — Mission Planning

Membahas GSD, altitude, overlap, flight time, area coverage dan ground control.

04 — Data Workflow

Menentukan bagaimana data akan diproses menjadi orthophoto, DSM, DTM, point cloud atau deliverable lainnya.

05 — Technical Demonstration

Jika dibutuhkan, kebutuhan dapat dibahas melalui technical discussion atau demo.

06 — Procurement Planning

Untuk organisasi yang sedang menyiapkan kebutuhan pengadaan, GPS Lands dapat membantu memberikan gambaran konfigurasi teknis dan indicative budget berdasarkan kebutuhan misi.

Dengan demikian, keputusan investasi tidak dimulai dari produk.

Keputusan dimulai dari kebutuhan pekerjaan.

Sedang Menyusun Anggaran Drone untuk Tahun Anggaran Berikutnya?

Banyak organisasi baru mulai membicarakan spesifikasi ketika proses pengadaan sudah berjalan.

Padahal, untuk teknologi seperti UAV mapping, proses yang lebih sehat adalah:

Identify → Define → Budget → Validate → Procure → Deploy

Jika kebutuhan Anda adalah:

maka tahap yang tepat untuk berdiskusi bukan hanya ketika tender sudah dibuka.

Technical requirement dan konfigurasi ideal sebaiknya dipahami sejak tahap perencanaan.

RAYBE: Bukan Sekadar Drone, tetapi Bagian dari Sistem Data Geospasial

Pada akhirnya, investasi UAV seharusnya tidak berhenti pada kemampuan pesawat untuk terbang.

Nilai sebenarnya muncul ketika:

Drone menghasilkan data → data diproses → informasi dianalisis → informasi mendukung keputusan.

RAYBE memberikan fondasi untuk pengumpulan data udara pada area menengah hingga luas, terutama ketika kebutuhan pekerjaan membutuhkan kombinasi coverage, flexibility, operational access dan geospatial accuracy. BETA sendiri memosisikan RAYBE untuk remote sensing pada medan yang menantang, dengan fixed-wing efficiency, VTOL flexibility, modular sensor dan autonomous mission capability.

Dan melalui GPS Lands, RAYBE dapat ditempatkan ke dalam workflow yang lebih luas:

Capture → Map → Model → Monitor → Analyze → Decide.

Ingin Menentukan Konfigurasi RAYBE yang Sesuai dengan Kebutuhan Anda?

Jangan mulai dari pertanyaan “RAYBE berapa megapixel?”

Mulailah dari:

“Berapa luas area yang harus dipetakan, data apa yang dibutuhkan, dan keputusan apa yang ingin dihasilkan?”

Tim GPS Lands dapat membantu melakukan technical discussion, pemilihan konfigurasi sensor, mission assessment, indicative budget planning, hingga workflow pengolahan data untuk kebutuhan pemerintah, BPKH, kehutanan, perkebunan, pertambangan, infrastruktur, kebencanaan, dan survei-pemetaan.

Konsultasikan kebutuhan RAYBE Anda dengan GPS Lands.

Diskusikan RAYBE dengan GPS Lands

PT GPS Lands Indosolutions
Geospatial | Aerial | CORS | Monitoring | GPR | Magnetometer | XRF Analyzer Solutions Provider