Jakarta, September 2026 — Bagi industri pertambangan, teknologi survey dan geospatial bukan lagi sekadar perangkat pendukung pekerjaan lapangan. GNSS, scanning, mapping, 3D reality capture, hingga berbagai teknologi digital kini semakin dekat dengan kebutuhan produktivitas, efisiensi, akurasi data, dan pengambilan keputusan.
Karena itu, keikutsertaan dalam event industri tidak cukup hanya dimaknai sebagai kesempatan untuk memamerkan produk.
Bagi PT GPS Lands Indosolutions (GPS Lands), kehadiran di Mining Expo 2026 pada 9–11 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, menjadi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih penting: bertemu langsung dengan market, memahami kebutuhan mereka, membangun hubungan, dan menemukan peluang bisnis yang benar-benar relevan.
Pada Mining Expo 2026, GPS Lands berkolaborasi bersama AllTerra Indonesia sebagai distributor Trimble dan Hydronav sebagai sesama subdealer. Kolaborasi ini menjadi salah satu bagian menarik dari keikutsertaan GPS Lands karena aktivitas di booth tidak hanya berorientasi pada product showcase, tetapi juga pada bagaimana ekosistem Trimble dapat bersama-sama menjangkau kebutuhan industri pertambangan.

Bukan Sekadar Menjaga Booth
Dalam sebuah pameran industri, aktivitas di booth sering kali terlihat sederhana: menunggu pengunjung, memperkenalkan produk, menjawab pertanyaan, kemudian bertukar kontak.
Namun, jika dilihat dari perspektif marketing, nilai sebenarnya justru berada di balik percakapan tersebut.
Setiap pengunjung yang datang membawa konteks berbeda. Ada yang sedang mencari perangkat untuk proyek yang sudah berjalan, ada yang sedang membandingkan teknologi, ada yang baru mulai mencari solusi, dan ada pula yang datang untuk memahami teknologi apa yang mungkin dapat meningkatkan workflow mereka.
Itulah mengapa tim GPS Lands tidak hanya menunggu pengunjung datang ke booth.
Selain melakukan engagement di booth, tim juga aktif melakukan networking dan prospecting ke perusahaan maupun exhibitor lain yang hadir di Mining Expo. Pendekatan ini penting karena potential customer tidak selalu datang dengan tujuan mencari GPS Lands. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki kebutuhan terhadap survey, mapping, GNSS, laser scanning, atau teknologi geospatial bisa saja ditemukan melalui percakapan dan networking di area pameran.
Dengan kata lain, event menjadi lebih dari sekadar inbound marketing.
Ia juga menjadi ruang untuk melakukan active outbound prospecting secara langsung.
Memperlihatkan Teknologi sebagai Bagian dari Workflow
Pada booth kolaborasi AllTerra Indonesia, GPS Lands dan Hydronav menonjolkan beberapa teknologi Trimble yang relevan dengan kebutuhan survey dan geospatial di industri pertambangan.
Di antaranya adalah Trimble R780, Trimble Catalyst DA2, Trimble SX12, dan Trimble X9.
R780 mewakili kebutuhan GNSS dengan tuntutan akurasi dan produktivitas tinggi. Catalyst DA2 memberikan pendekatan yang lebih compact dan fleksibel untuk pekerjaan lapangan tertentu. Sementara SX12 dan X9 membawa pembicaraan ke area yang berbeda, yaitu scanning dan 3D reality capture.
Menariknya, keberadaan beberapa teknologi tersebut membuka kesempatan untuk mengubah cara percakapan dengan customer.
Pembicaraan tidak harus berhenti pada pertanyaan:
“Bapak membutuhkan GNSS tipe apa?”
Tetapi dapat berkembang menjadi:
“Bagaimana workflow survey yang berjalan saat ini, di mana bottleneck-nya, dan data seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan?”
Perubahan cara berpikir ini penting.
Sebab customer pertambangan pada akhirnya tidak membeli GNSS, total station, atau laser scanner hanya karena spesifikasinya bagus. Mereka membeli kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik.
Di sinilah peran perusahaan penyedia solusi menjadi semakin penting.
Dari Product Selling Menuju Solution Thinking
Industri pertambangan memiliki karakteristik yang membuat kebutuhan teknologi cukup kompleks.
Area kerja luas. Kondisi lapangan berubah. Target pekerjaan dapat sangat cepat. Data survey harus dapat dipertanggungjawabkan. Dan pada akhirnya, data tersebut harus dapat digunakan oleh engineering, mine planning, operation, maupun management.
Karena itu, satu perangkat sering kali tidak cukup untuk menyelesaikan keseluruhan kebutuhan. GNSS dapat memberikan kontrol dan positioning. Drone dapat membantu memperoleh data area yang luas dengan lebih cepat. Laser scanner dapat menangkap kondisi tiga dimensi secara detail.
Software kemudian menjadi bagian penting untuk mengolah data tersebut menjadi informasi yang dapat digunakan.
Dari perspektif tersebut, tantangan sebenarnya bukan sekadar memilih perangkat terbaik.
Tantangannya adalah merancang workflow yang tepat.
Inilah salah satu insight penting yang kembali terlihat selama Mining Expo 2026. Teknologi yang bagus belum tentu memberikan hasil maksimal apabila ditempatkan dalam workflow yang tidak tepat.
Sebaliknya, kombinasi beberapa teknologi yang sesuai kebutuhan dapat memberikan nilai yang jauh lebih besar dibandingkan membeli perangkat secara terpisah tanpa melihat keseluruhan proses kerja.
Event sebagai “Sensor” untuk Membaca Market
Salah satu fungsi event yang sering terlupakan dalam aktivitas marketing adalah kemampuannya menjadi market intelligence tool. Digital marketing dapat memberi kita data mengenai apa yang dicari orang.
Namun event memberikan kesempatan untuk mendengar mengapa mereka mencarinya.
Dari percakapan langsung dengan customer dan market, tim dapat memahami berbagai hal yang tidak selalu terlihat dari data digital: bagaimana proses survey dilakukan, kendala yang dihadapi tim lapangan, teknologi yang sudah digunakan, ekspektasi terhadap perangkat baru, hingga bagaimana sebuah perusahaan mempertimbangkan investasi teknologi.
Informasi seperti ini sangat berharga.
Karena bagi marketing, memahami market bukan hanya mengetahui produk apa yang sedang dicari, tetapi memahami masalah apa yang ingin diselesaikan oleh customer.
Dan semakin baik pemahaman tersebut, semakin relevan pula komunikasi yang dapat dibangun setelah event.
Salah Satu Lead Potensial: PT Bara Coal
Salah satu prospect yang teridentifikasi selama hari pertama Mining Expo adalah PT Bara Coal.
Lead tersebut kemudian didelegasikan kepada Ghazzi dari tim Sales untuk dilakukan follow-up dan qualification lebih lanjut. Bagi GPS Lands, hal seperti ini menjadi indikator bahwa event dapat menghasilkan peluang yang konkret. Namun, keberhasilan event tentu tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak kartu nama, nomor WhatsApp, atau kontak yang diperoleh.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
- Berapa banyak lead yang benar-benar memiliki kebutuhan?
- Berapa banyak yang memiliki proyek?
- Berapa banyak yang masuk ke qualified opportunity?
Dan pada akhirnya:
- Berapa banyak yang dapat dikonversi menjadi revenue?
Karena itu, setelah event selesai, pekerjaan marketing sebenarnya belum selesai. Justru di sinilah pekerjaan berikutnya dimulai.
Lead Bukan Akhir dari Event, tetapi Awal dari Customer Journey
Salah satu risiko terbesar dari event marketing adalah ketika seluruh energi berhenti pada hari terakhir pameran.
- Booth dibongkar.
- Database disimpan.
- Kontak masuk spreadsheet.
- Kemudian beberapa minggu berlalu tanpa follow-up yang terstruktur.
- GPS Lands melihat bahwa hasil event harus diperlakukan berbeda.
Setiap lead perlu dipahami berdasarkan tingkat kebutuhan dan potensinya. Ada prospect yang sudah memiliki kebutuhan aktual, ada yang masih melakukan eksplorasi, dan ada pula yang mungkin baru memiliki kebutuhan di masa mendatang.

Karena itu, proses setelah event perlu bergerak dari:
Lead → Qualification → Follow-up → Opportunity → Proposal → Conversion.
Dengan pendekatan ini, event tidak hanya menjadi aktivitas branding, tetapi menjadi bagian dari revenue pipeline perusahaan.
Kolaborasi yang Menjadi Nilai Tambah
Mining Expo 2026 juga memberikan pengalaman kolaborasi yang positif antara AllTerra Indonesia, GPS Lands, dan Hydronav. Pada booth tersebut, GPS Lands dan Hydronav menjadi subdealer yang bersama-sama membantu AllTerra Indonesia dalam menjangkau market dan menjaring leads.
Kolaborasi seperti ini memiliki nilai strategis tersendiri.
Dalam market yang semakin kompetitif, kekuatan sebuah ekosistem tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki produk, tetapi juga oleh kemampuan setiap pihak untuk bekerja bersama dalam menghadirkan solusi kepada customer.
Bagi GPS Lands, hubungan dengan AllTerra Indonesia bukan hanya mengenai distribusi produk Trimble, tetapi juga bagaimana bersama-sama memahami market dan menciptakan peluang. Sementara kolaborasi dengan Hydronav menunjukkan bahwa sesama subdealer dapat memiliki ruang untuk bersinergi dalam aktivitas market engagement.
Hal ini menjadi pengalaman yang baik untuk membangun pola kolaborasi yang lebih efektif pada event industri berikutnya.
Apa yang Dipelajari GPS Lands dari Mining Expo 2026?
Jika dirangkum, setidaknya ada beberapa pembelajaran penting dari keikutsertaan GPS Lands dalam Mining Expo 2026.
1. Customer semakin melihat teknologi dari sisi manfaat
Spesifikasi produk tetap penting, tetapi percakapan semakin bergeser ke arah:
“Apa dampaknya terhadap pekerjaan kami?”
Ini berarti komunikasi marketing dan sales perlu semakin banyak berbicara tentang workflow, produktivitas, efisiensi, kualitas data, dan business impact.
2. Event harus menghasilkan pipeline, bukan hanya exposure
Exposure memang penting untuk brand.
Namun bagi perusahaan B2B seperti GPS Lands, nilai event akan jauh lebih besar ketika exposure tersebut dapat diterjemahkan menjadi qualified leads dan sales opportunities.
3. Prospecting tidak boleh berhenti di booth
Booth adalah titik temu.
Market sebenarnya berada jauh lebih luas di seluruh area pameran.
Aktivitas mengunjungi exhibitor lain, networking, berdiskusi dengan technical representative, dan membangun hubungan informal merupakan bagian penting dari event marketing.
4. Produk harus ditempatkan dalam solusi
R780, DA2, SX12, dan X9 bukan sekadar empat produk berbeda.
Masing-masing dapat menjadi bagian dari workflow yang berbeda sesuai kebutuhan customer. Inilah pendekatan yang perlu terus dibangun oleh GPS Lands: bukan sekadar menjual perangkat, tetapi membantu customer menentukan teknologi yang tepat untuk pekerjaannya.
5. Follow-up menentukan nilai sebenarnya dari event
Tiga hari di pameran menghasilkan momentum. Follow-up-lah yang menentukan apakah momentum tersebut berubah menjadi opportunity.
Dari JIExpo Menuju Opportunity Berikutnya
Mining Expo 2026 akhirnya bukan hanya tentang tiga hari aktivitas di JIExpo Kemayoran.
Ada percakapan yang dimulai.
Ada kebutuhan yang teridentifikasi.
Ada hubungan yang dibangun.
Ada lead yang harus ditindaklanjuti.
Dan ada peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Bagi GPS Lands, pengalaman ini semakin memperkuat keyakinan bahwa aktivitas marketing di industri B2B harus berjalan lebih dekat dengan sales dan technical team.
Marketing bukan hanya bertugas mendatangkan orang ke booth.
Marketing harus membantu perusahaan menemukan market yang tepat, memahami kebutuhannya, membangun engagement, dan menciptakan peluang yang dapat dikonversi menjadi bisnis.
Pada akhirnya, teknologi seperti GNSS, scanning, dan reality capture hanyalah bagian dari cerita.
Cerita yang lebih besar adalah bagaimana teknologi tersebut membantu perusahaan pertambangan mengumpulkan data yang lebih baik, memahami kondisi lapangan dengan lebih cepat, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.
Dan bagi GPS Lands, itulah nilai yang ingin terus dibawa dalam setiap pertemuan dengan market:
bukan hanya hadir di industri, tetapi hadir untuk memahami kebutuhan dan membantu membangun solusi yang relevan.