Article 01 Sep 2026

IIGCE 2026: Ketika Teknologi Geospatial dan Monitoring Menjadi Fondasi Baru Industri Geothermal Indonesia

Dari Pameran Teknologi Menjadi Gambaran Kebutuhan Industri

Indonesia sedang berada dalam fase penting dalam pengembangan energi panas bumi.

Dengan potensi sumber daya geothermal yang besar dan kebutuhan terhadap energi yang lebih berkelanjutan, pengembangan lapangan geothermal tidak lagi hanya berbicara tentang eksplorasi dan pembangunan pembangkit. Seiring bertambahnya kompleksitas proyek, kebutuhan terhadap data spasial, positioning, pemantauan kondisi aset, serta informasi lapangan yang dapat dipercaya juga semakin besar.

Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian kami selama mengikuti Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta pada 19–21 Agustus 2026.

Melalui booth bersama GPS Lands Indosolutions dan PT Telematika Aset Monitoring (TeAm), kami bertemu dengan berbagai stakeholder, berdiskusi mengenai kebutuhan lapangan, serta melihat secara langsung bagaimana industri mulai melihat teknologi bukan lagi sebagai perangkat terpisah, tetapi sebagai bagian dari workflow yang lebih besar.

Dari berbagai percakapan tersebut, terlihat satu pola yang semakin jelas:

Semakin kompleks sebuah proyek geothermal, semakin penting kualitas data yang digunakan untuk mengambil keputusan.

Dan di sinilah teknologi geospatial dan monitoring memiliki peran strategis.

Mengapa Geospatial Penting dalam Pengembangan Geothermal?

Geothermal merupakan industri yang sangat erat dengan kondisi geografis.

Lokasi sumur, topografi, akses jalan, pipeline, fasilitas produksi, lereng, area eksplorasi, hingga infrastruktur pembangkit semuanya memiliki hubungan langsung dengan posisi dan kondisi di lapangan. Karena itu, data spasial tidak hanya dibutuhkan ketika melakukan pemetaan awal.

Data tersebut dapat digunakan sepanjang siklus proyek:

Eksplorasi → Development → Construction → Operation → Maintenance → Monitoring

Pada tahap eksplorasi, kebutuhan dapat berfokus pada pemetaan dan pengumpulan informasi kondisi permukaan.

Ketika memasuki tahap pembangunan, kebutuhan bergeser menuju survey engineering, konstruksi, as-built, dan positioning. Setelah fasilitas beroperasi, kebutuhan berkembang menjadi monitoring kondisi aset, infrastruktur, lingkungan, maupun perubahan yang terjadi di sekitar area kerja.

Artinya, kebutuhan geospatial sebenarnya tidak berhenti ketika proyek selesai dibangun.

Justru data geospatial dapat menjadi bagian dari lifecycle aset.

1. GNSS: Fondasi Positioning untuk Pekerjaan Geothermal

Salah satu teknologi yang tetap menjadi fondasi berbagai aktivitas survey adalah GNSS.

Dalam pekerjaan geothermal, GNSS dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan positioning dan survey, mulai dari pengukuran titik kontrol, topographic survey, staking, pemetaan infrastruktur, hingga kebutuhan monitoring.

Teknologi GNSS modern juga semakin berkembang dari sekadar alat untuk mendapatkan koordinat.

Dengan dukungan koreksi dan workflow yang tepat, data positioning dapat menjadi bagian dari sistem pengumpulan data yang lebih cepat dan terintegrasi.

Namun, satu hal tetap penting:

Akurasi perangkat tidak berdiri sendiri.

Hasil pengukuran dipengaruhi oleh metode survey, kondisi lingkungan, koreksi, multipath, kualitas kontrol, operator, hingga workflow pengolahan data. Karena itu, pemilihan GNSS untuk proyek geothermal sebaiknya tidak hanya berdasarkan angka akurasi di brosur, tetapi berdasarkan kondisi lapangan dan kebutuhan deliverable.

2. Drone LiDAR untuk Area Sulit Dijangkau

Lingkungan geothermal sering kali memiliki karakteristik medan yang tidak sederhana.

Vegetasi, kontur, akses terbatas, area curam, serta lokasi fasilitas yang tersebar dapat membuat metode survey konvensional membutuhkan waktu dan sumber daya lebih besar.

Di kondisi seperti ini, drone mapping dan Drone LiDAR menjadi salah satu teknologi yang semakin menarik. Drone LiDAR memungkinkan pengumpulan data tiga dimensi dari udara dengan kemampuan penetrasi tertentu terhadap vegetasi, sehingga dapat menjadi alternatif untuk area yang sulit dipetakan secara konvensional.

Output yang dapat diperoleh antara lain:

  • Point cloud.
  • Digital Terrain Model.
  • Digital Surface Model.
  • Kontur.
  • Data topografi.
  • Model 3D.

Dalam konteks geothermal, data tersebut dapat membantu berbagai pekerjaan seperti pemetaan area eksplorasi, corridor mapping, akses jalan, pipeline corridor, site development, hingga dokumentasi kondisi area.

Namun teknologi drone bukan berarti menggantikan surveyor.

Drone mempercepat akuisisi data; surveyor tetap menentukan bagaimana data tersebut harus direncanakan, dikontrol, divalidasi, dan digunakan.

3. Laser Scanner: Mengubah Fasilitas Geothermal Menjadi Data 3D

Ketika sebuah proyek masuk ke tahap konstruksi dan operasi, kebutuhan datanya mulai berbeda. Pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar:

“Di mana posisi objek?”

Tetapi:

“Seperti apa kondisi objek tersebut?”

Di sinilah Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan teknologi laser scanning menjadi relevan. Laser scanner dapat digunakan untuk menghasilkan point cloud tiga dimensi dari fasilitas dan lingkungan sekitarnya.

Untuk industri geothermal, teknologi ini berpotensi digunakan pada:

As-built documentation

Merekam kondisi aktual fasilitas setelah konstruksi.

Plant documentation

Membangun representasi digital dari fasilitas existing.

Engineering verification

Membandingkan kondisi aktual dengan desain.

Inspection

Mendukung dokumentasi kondisi infrastruktur.

3D modelling

Menghasilkan data tiga dimensi yang dapat digunakan dalam workflow engineering maupun digital twin.

Dengan semakin kompleksnya fasilitas geothermal, memiliki data kondisi aktual yang akurat dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dokumentasi 2D yang sudah tidak selalu menggambarkan kondisi lapangan terbaru.

4. Monitoring: Ketika Data Tidak Cukup Hanya Dikumpulkan Sekali

Salah satu insight penting dari IIGCE 2026 adalah meningkatnya relevansi monitoring technology.

Survey pada dasarnya memberikan snapshot. Monitoring memberikan cerita perubahan dari waktu ke waktu. Perbedaan tersebut sangat penting. Misalnya, sebuah struktur berada pada posisi tertentu hari ini.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Apakah posisinya tetap sama tiga bulan kemudian?

Atau:

Apakah ada perubahan yang menunjukkan potensi masalah?

Dengan sistem monitoring yang tepat, perubahan tersebut dapat dipantau secara berkala atau bahkan secara real-time, tergantung kebutuhan sistem.

Teknologi monitoring dapat mencakup berbagai parameter seperti:

  • Pergerakan/deformasi.
  • Kondisi geotechnical.
  • Kondisi lingkungan.
  • Parameter struktur.
  • Perubahan tertentu pada aset.

Data kemudian dapat dikirim melalui data logger atau sistem komunikasi menuju platform pemantauan sehingga tim tidak harus selalu berada di lokasi untuk mendapatkan informasi terbaru.

5. Early Warning System: Dari Monitoring Menjadi Tindakan

Monitoring akan semakin bernilai ketika data dapat diterjemahkan menjadi early warning.

Bayangkan sebuah sistem yang tidak hanya menunjukkan angka sensor, tetapi juga membantu tim memahami:

Normal → Warning → Critical

Dengan threshold yang telah ditentukan, sistem dapat membantu memberikan peringatan ketika parameter tertentu melewati batas. Untuk proyek geothermal, konsep ini dapat dikembangkan pada berbagai kebutuhan monitoring yang relevan dengan kondisi aset dan lingkungan.

Tujuannya bukan sekadar memiliki dashboard.

Tujuannya adalah:

Membantu tim mengetahui perubahan lebih cepat sehingga keputusan dapat dibuat sebelum masalah berkembang menjadi risiko yang lebih besar.

GPS Lands dan TeAm: Dua Kapabilitas yang Saling Melengkapi

Keikutsertaan GPS Lands Indosolutions dan TeAm dalam IIGCE 2026 juga membawa satu konsep penting: geospatial data dan monitoring seharusnya tidak selalu dipandang sebagai dua dunia yang terpisah. GPS Lands memiliki fokus pada solusi teknologi survey, mapping, geospatial, dan geophysics, sementara Telematika Aset Monitoring (TeAm) membawa kapabilitas pada area asset monitoring dan monitoring system.

Keduanya dapat menjadi bagian dari workflow yang saling melengkapi.

Misalnya:

Survey → Mapping → Establish Baseline → Monitoring → Analysis → Decision

Survey menghasilkan baseline.

Monitoring melihat perubahan.

Data kemudian digunakan untuk membantu pengambilan keputusan.

Pendekatan seperti ini membuka peluang implementasi yang lebih luas dibandingkan hanya menjual satu perangkat.

Dari Eksplorasi hingga Operasi: Di Mana Teknologi Ini Digunakan?

Jika seluruh siklus geothermal dilihat sebagai satu kesatuan, pemanfaatan teknologi dapat digambarkan secara sederhana:

Eksplorasi

GNSS + Drone Mapping + Geophysics

Digunakan untuk mendukung pengumpulan data spasial dan kondisi lapangan.

Development & Engineering

GNSS + Total Station + Laser Scanner + Drone

Mendukung survey, engineering data, site development, dan pemetaan area.

Construction

GNSS + Total Station + Laser Scanner

Mendukung positioning, pengukuran konstruksi, progress documentation, dan as-built.

Operation

Laser Scanner + Geospatial Data + Monitoring System

Mendukung dokumentasi aset, inspeksi, pemantauan dan pengelolaan data.

Maintenance & Asset Monitoring

Sensors + Data Logger + Monitoring Platform

Membantu melihat perubahan kondisi aset dan memberikan informasi yang dapat digunakan untuk tindakan lebih cepat.

Tantangan yang Sering Tidak Terlihat: Integrasi Data

Membeli perangkat survey yang bagus bukan akhir dari persoalan. Salah satu tantangan terbesar justru muncul setelah data diperoleh.

  • Bagaimana data dari GNSS digunakan bersama data drone?
  • Bagaimana point cloud laser scanner dikombinasikan dengan data engineering?
  • Bagaimana hasil survey menjadi baseline untuk monitoring?
  • Bagaimana data sensor dapat dihubungkan dengan informasi lokasi?
  • Dan bagaimana semua informasi tersebut dapat digunakan oleh tim yang berbeda?

Inilah alasan mengapa pendekatan workflow menjadi semakin penting.

Perusahaan tidak cukup hanya memiliki:

GNSS + Drone + Laser Scanner + Sensor.

Yang dibutuhkan adalah:

GNSS + Drone + Laser Scanner + Sensor + Workflow + People + Data

Karena perangkat tanpa workflow hanya menghasilkan lebih banyak data.

Potensi Implementasi di Industri Geothermal Indonesia

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendekatan ini.

Dengan pengembangan lapangan geothermal yang membutuhkan aktivitas eksplorasi, pembangunan infrastruktur, pengoperasian fasilitas, dan pemeliharaan aset dalam jangka panjang, kebutuhan terhadap data yang konsisten akan terus meningkat. Beberapa peluang implementasi yang dapat dikembangkan antara lain:

1. Digital Survey

Mengintegrasikan GNSS, drone, laser scanning, dan software untuk mempercepat proses pengumpulan serta pengolahan data.

2. 3D Asset Documentation

Membangun dokumentasi digital fasilitas geothermal menggunakan laser scanning.

3. Drone LiDAR Mapping

Mendukung pemetaan area luas atau sulit dijangkau.

4. Structural & Geotechnical Monitoring

Memantau perubahan kondisi struktur maupun lingkungan sesuai kebutuhan proyek.

5. Integrated Asset Monitoring

Menghubungkan sensor, data logger, komunikasi, dan dashboard monitoring.

6. Digital Twin

Menggabungkan data spasial, model 3D, dan informasi aset untuk membangun representasi digital yang dapat terus diperbarui.

Bukan Tentang Membeli Teknologi, Tetapi Menghitung Value

Pertanyaan yang sering muncul ketika perusahaan ingin mengadopsi teknologi baru adalah:

“Berapa harga alatnya?”

Padahal untuk investasi teknologi industri, pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Berapa nilai yang bisa diberikan teknologi tersebut?”

Misalnya sebuah solusi mampu mengurangi waktu survey dari lima hari menjadi dua hari. Atau mengurangi kebutuhan mobilisasi personel ke lokasi sulit. Atau membantu menemukan perubahan kondisi aset lebih awal. Atau mengurangi pekerjaan pengukuran ulang.

Maka nilai investasi tidak lagi hanya dihitung berdasarkan harga perangkat.

Perhitungannya dapat diarahkan pada:

Cost Saving + Productivity + Risk Reduction + Data Quality + Decision Speed

Itulah yang seharusnya menjadi dasar ketika perusahaan melakukan evaluasi teknologi.

Dari Booth IIGCE Menuju Kolaborasi yang Lebih Nyata

Bagi kami, salah satu hal paling menarik dari IIGCE 2026 bukan hanya jumlah pengunjung yang datang ke booth. Yang lebih penting adalah kualitas percakapannya.

  • Ada diskusi mengenai drone LiDAR.
  • Ada kebutuhan laser scanning.
  • Ada pembicaraan mengenai GNSS.
  • Ada pertanyaan mengenai monitoring.
  • Ada pula diskusi yang lebih jauh mengenai bagaimana data dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan engineering dan operasional.

Percakapan seperti inilah yang ingin terus kami lanjutkan setelah event.

Karena sebuah exhibition seharusnya tidak berhenti ketika booth dibongkar.

Exhibition adalah awal dari conversation.

Conversation berkembang menjadi technical discussion. Technical discussion dapat berkembang menjadi site assessment. Kemudian demo atau proof of concept. Dan ketika solusi terbukti memberikan value, barulah masuk ke tahap implementasi.

Apakah Perusahaan Anda Sudah Memiliki Workflow Geospatial dan Monitoring yang Terintegrasi?

Tidak semua perusahaan membutuhkan teknologi yang sama.

  • Ada yang cukup dengan GNSS.
  • Ada yang membutuhkan drone mapping.
  • Ada yang membutuhkan Drone LiDAR.
  • Ada yang membutuhkan laser scanning.
  • Ada yang membutuhkan monitoring sensor.

Dan ada pula yang membutuhkan kombinasi beberapa teknologi sekaligus.Karena itu, langkah pertama bukan menentukan produk.

Langkah pertama adalah memahami pekerjaan.

Jika perusahaan Anda sedang menghadapi kebutuhan seperti:

  • Pemetaan area geothermal.
  • Survey topografi.
  • Drone LiDAR.
  • Dokumentasi fasilitas 3D.
  • Laser scanning.
  • GNSS positioning.
  • Monitoring geotechnical atau environmental.
  • Asset monitoring.
  • Early warning system.
  • Integrasi data geospatial dan monitoring.

GPS Lands Indosolutions bersama Telematika Aset Monitoring (TeAm) terbuka untuk melakukan diskusi teknis dan membantu mengidentifikasi pendekatan yang paling sesuai. Tidak harus dimulai dari pembelian perangkat.

Kita dapat memulainya dari:

Masalah → Kebutuhan → Workflow → Solusi → Implementasi → Value

Karena teknologi terbaik bukan selalu yang paling canggih.

Teknologi terbaik adalah yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah yang nyata.

Penutup

IIGCE 2026 memberikan satu gambaran yang cukup jelas mengenai arah perkembangan industri geothermal.

Ke depan, kompetisi tidak hanya akan terjadi pada kemampuan menghasilkan energi, tetapi juga pada kemampuan perusahaan mengelola data, memahami kondisi aset, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.

Di dalam perjalanan tersebut, teknologi geospatial dan monitoring memiliki posisi yang semakin penting. GNSS membantu mengetahui posisi. Drone membantu melihat area dari udara. Laser scanner membantu memahami kondisi tiga dimensi. Sensor membantu membaca perubahan. Dan platform membantu mengubah semuanya menjadi informasi yang dapat digunakan.

Pada akhirnya, teknologi bukanlah tujuan.

Teknologi adalah cara untuk membuat pekerjaan menjadi lebih aman, lebih efisien, lebih terukur, dan lebih mudah dikendalikan. Dan perjalanan menuju geothermal Indonesia yang semakin mature akan membutuhkan lebih banyak integrasi antara data, teknologi, manusia, dan keputusan.

GPS Lands Indosolutions × Telematika Aset Monitoring (TeAm)

Geospatial Data. Monitoring Intelligence. Better Decisions.

Ingin membahas kebutuhan geospatial atau monitoring untuk proyek geothermal Anda?

Hubungi tim kami untuk melakukan konsultasi awal dan menentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.

Share
Copied!