January 2026 — With the increasing need for efficiency and accuracy in mine management, Continuously Operating Reference Station (CORS) technology has become a vital infrastructure. Entering the first quarter of 2026, CORS implementation in the mining sector is now required to refer to SNI 7964:2022, the national standard that regulates the technical specifications for the development of this infrastructure to ensure high precision and data sustainability.

The construction of CORS in mining concession areas is not just about installing GNSS antennas, but rather a precise geodetic process to support survey activities, slope monitoring (PIT), and autonomous heavy equipment navigation.

Implementation Based on SNI 7964:2022Based on the latest regulations, the construction of CORS in the mining segment must meet several main technical criteria:

Monument Stability: Considering the dynamics of the soil in the mining area, the monument must be built on stable rock (bedrock) or with reinforced concrete construction that goes deep into the ground to avoid local displacement effects.

Device Specifications: The use of multi-frequency and multi-constellation GNSS receivers (GPS, GLONASS, Galileo, BeiDou) has become a mandatory standard to ensure signal availability in mining areas which often have multipath challenges.

Data Connectivity: Data transmission must be stable using the NTRIP protocol to support Real-Time Kinematic (RTK) correction for the survey team in the field.

Integration with the Indonesian Geospatial Reference System (SRGI)
One crucial aspect of this development is integration with the SRGI. According to the Geospatial Information Agency (BPGI) Regulation, every coordinate generated within Indonesian jurisdiction must refer to a single reference.

By integrating the mine's CORS into the SRGI network, the company ensures that all mapping data—from both LiDAR drones and terrestrial surveys—is spatially consistent with national maps. This prevents overlapping concessions and simplifies reporting of Work Plans and Budgets (RKAB) to relevant ministries.

The Strategic Role of the Geospatial Information Agency (BIG)
To ensure that the infrastructure being built meets legal and technical standards, the construction process involves two crucial stages that are directly supervised by the Geospatial Information Agency (BIG):

Development Supervision: This is done from the site selection stage to ensure that the location is free from electromagnetic interference and has minimal obstruction.

Commissioning ActivitiesThis is the final functional test before the station is officially operational. A team of experts will validate data quality (SN Ratio, Multipath, Data Gaps) and ensure the station's coordinates are correctly tied to the National Geodetic Control Network.

The Importance of Standardization: Without commissioning and supervision from BIG, data from the CORS station cannot be accredited as official data in the national geospatial information system, which risks the legal validity of the mining mapping results.

Manfaat bagi Operasional Pertambangan
Di awal tahun 2026 ini, integrasi teknologi Drone LiDAR dengan koreksi dari stasiun CORS yang terstandarisasi memberikan lompatan produktivitas yang signifikan:

Precision Mapping: Horizontal and vertical position accuracy reaches sub-decimeter level (below 10 cm).

Monitoring Real-Time: Early detection of ground movement or potential landslides on mine walls continuously 24/7.

Cost Efficiency: Reduces the need for time-consuming and high-risk ground control point (GCP) installation in the field.

The construction of a CORS in accordance with SNI 7964:2022 is no longer just a technical choice, but a strategic investment for mining companies to achieve good mining governance (Good Mining Practice) and national integration.

Author Kholis Muhsin Lubis

Juni 26 – Mengapa Semakin Banyak Perusahaan Tambang Membangun Infrastruktur GNSS Permanen? Di banyak operasi tambang modern, GNSS sudah menjadi tulang punggung aktivitas survey dan pemetaan. Mulai dari stake out pit, pengukuran volume stockpile, monitoring disposal, survey jalan hauling, hingga pengendalian alat berat berbasis machine control, semuanya bergantung pada koordinat yang akurat dan konsisten.

Namun ada satu pertanyaan yang mulai sering muncul ketika skala operasi semakin besar:

Apakah sudah saatnya tambang memiliki stasiun CORS sendiri?

Pertanyaan ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut produktivitas, efisiensi operasional, dan kualitas data yang akan digunakan selama bertahun-tahun.

Menariknya, sebagian besar tambang besar di Indonesia yang telah beroperasi dalam jangka panjang pada akhirnya memilih membangun infrastruktur CORS permanen mereka sendiri. Bukan karena mengikuti tren, tetapi karena kebutuhan operasional yang semakin kompleks.

Apa Itu CORS dan Mengapa Penting?

Continuously Operating Reference Station (CORS) adalah stasiun GNSS permanen yang secara terus-menerus merekam data satelit dan menyediakan koreksi posisi secara real-time kepada pengguna di lapangan.

Sederhananya, CORS berfungsi sebagai “jangkar koordinat” yang memastikan seluruh aktivitas survey menggunakan referensi yang sama. Tanpa sistem referensi yang konsisten, setiap pengukuran berpotensi menghasilkan koordinat yang berbeda, terutama ketika dilakukan oleh tim, vendor, atau kontraktor yang berbeda.

Di lingkungan pertambangan, kondisi seperti ini dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.

Ketika CORS Publik Sudah Tidak Lagi Cukup

Pada tahap awal operasi tambang, penggunaan jaringan CORS publik atau layanan koreksi pihak ketiga biasanya masih memadai.

Namun seiring berkembangnya operasi, beberapa masalah mulai muncul.

Misalnya:

Pada kondisi tersebut, ketergantungan terhadap jaringan eksternal mulai menjadi risiko operasional. Banyak surveyor pernah mengalami situasi di mana pekerjaan harus tertunda hanya karena layanan koreksi tidak tersedia atau koneksi internet terganggu.

Ketika satu jam downtime dapat mempengaruhi produksi tambang, kondisi seperti ini tentu tidak ideal.

Tanda-Tanda Tambang Sudah Membutuhkan CORS Sendiri

Tidak semua tambang harus langsung membangun CORS permanen. Namun terdapat beberapa indikator yang umumnya menunjukkan bahwa investasi tersebut sudah layak dipertimbangkan.

1. Luas Operasi Sudah Sangat Besar

Pada tambang dengan area puluhan hingga ratusan kilometer persegi, kebutuhan koordinat yang konsisten menjadi semakin penting. Semakin luas area kerja, semakin besar kebutuhan terhadap referensi geospasial yang stabil. Terutama jika terdapat banyak tim survey yang bekerja secara bersamaan.

2. Survey Dilakukan Setiap Hari

Jika GNSS digunakan setiap hari untuk:

maka biaya operasional penggunaan layanan koreksi eksternal dalam jangka panjang dapat menjadi signifikan. Pada titik tertentu, membangun CORS sendiri justru lebih ekonomis.

3. Menggunakan Sistem Koordinat Lokal

Sebagian besar tambang besar di Indonesia menggunakan local grid hasil site calibration. Tujuannya untuk menyederhanakan proses engineering dan mine planning. Dengan memiliki CORS sendiri, perusahaan dapat mendistribusikan koreksi yang sudah terintegrasi langsung dengan sistem koordinat lokal tersebut.

Hasilnya seluruh pengguna memperoleh koordinat yang konsisten tanpa perlu melakukan transformasi berulang.

4. Membutuhkan Monitoring Geoteknik dan Deformasi

Saat perusahaan mulai mengoperasikan:

maka keberadaan stasiun referensi permanen menjadi semakin penting. Karena pada aplikasi monitoring, kestabilan koordinat jangka panjang jauh lebih penting dibanding sekadar mendapatkan fix RTK.

5. Implementasi Autonomous dan Machine Control

Industri tambang global sedang bergerak menuju otomatisasi.

Sistem seperti:

memerlukan referensi GNSS yang tersedia secara terus-menerus. Dalam lingkungan seperti ini, CORS bukan lagi pilihan tambahan tetapi bagian dari infrastruktur produksi.

Studi Kasus di Indonesia

Beberapa tambang batubara besar di Kalimantan telah mengoperasikan stasiun GNSS permanen selama bertahun-tahun. Awalnya sistem tersebut dibangun untuk mendukung kebutuhan survey internal.

Namun seiring berkembangnya operasi, CORS mulai digunakan oleh:

Dengan menggunakan satu referensi yang sama, perbedaan koordinat antar departemen dapat diminimalkan secara signifikan. Hasilnya bukan hanya peningkatan akurasi, tetapi juga peningkatan efisiensi koordinasi antar tim.

Mengapa Banyak Tambang Memilih Trimble Alloy?

Ketika berbicara mengenai stasiun referensi permanen, salah satu nama yang paling sering digunakan dalam industri pertambangan adalah Trimble Alloy.

Alasannya bukan sekadar akurasi GNSS.

Sistem ini dirancang khusus untuk operasi permanen dengan fitur:

Pada lingkungan tambang yang beroperasi tanpa henti, keandalan sistem sering kali jauh lebih penting dibanding spesifikasi teknis semata.

Bagaimana dengan RTX dan PPP?

Menariknya, saat ini banyak receiver modern seperti:

telah dilengkapi teknologi RTX.

Artinya pengukuran presisi masih dapat dilakukan meskipun tidak tersedia internet atau jaringan CORS. Namun perlu dipahami bahwa RTX dan CORS memiliki fungsi yang berbeda.

RTX sangat ideal untuk:

Sedangkan CORS lebih cocok digunakan ketika perusahaan membutuhkan sistem referensi permanen yang digunakan bersama oleh seluruh organisasi. Dalam praktik terbaik, banyak perusahaan justru mengombinasikan keduanya.

Berapa Nilai Investasinya?

Investasi membangun stasiun CORS tidak selalu sebesar yang dibayangkan.

Sebagai gambaran:

Receiver Referensi Permanen

Trimble Alloy:
sekitar Rp200 juta – Rp350 juta

Antena Geodetik Permanen

sekitar Rp50 juta – Rp150 juta

Infrastruktur Pendukung

sekitar Rp500 juta – Rp700 juta

Software dan Integrasi

sekitar Rp70 juta – Rp200 juta

Secara umum, investasi awal berkisar:

Rp500 juta hingga Rp1 miliar

tergantung kompleksitas sistem.

Bagi tambang yang beroperasi selama puluhan tahun, angka tersebut relatif kecil dibanding manfaat yang diperoleh.

Dampak Bisnis yang Sering Tidak Terlihat

Banyak perusahaan hanya menghitung manfaat CORS dari sisi survey. Padahal dampaknya jauh lebih luas. Keuntungan yang sering dirasakan antara lain:

Dalam jangka panjang, nilai terbesar bukan berasal dari penghematan biaya, tetapi dari meningkatnya kualitas pengambilan keputusan.

Rekomendasi untuk Tambang di Indonesia

Jika operasi tambang masih berskala kecil dan kebutuhan survey belum terlalu intensif, layanan CORS eksternal atau teknologi RTX biasanya masih cukup memadai. Namun ketika perusahaan mulai menghadapi kebutuhan:

maka membangun stasiun CORS sendiri layak dipertimbangkan sebagai investasi strategis.

CORS bukan sekadar perangkat GNSS yang dipasang di atas gedung atau menara. Dalam operasi tambang modern, CORS merupakan fondasi dari seluruh ekosistem geospasial perusahaan. Semakin besar skala operasi, semakin penting peran referensi koordinat yang konsisten, stabil, dan dapat diandalkan.

Banyak perusahaan awalnya melihat CORS sebagai biaya tambahan. Namun setelah sistem berjalan, mereka menyadari bahwa manfaat terbesar justru berasal dari berkurangnya ketidakpastian data dan meningkatnya kepercayaan terhadap seluruh proses survey, engineering, drone mapping, hingga monitoring geoteknik.

Karena pada akhirnya, keputusan bernilai miliaran rupiah hanya akan sebaik data yang digunakan untuk membuat keputusan tersebut. Dan dalam dunia pertambangan modern, CORS adalah salah satu fondasi utama untuk memastikan data tersebut tetap akurat hari ini, besok, dan bertahun-tahun ke depan.an yang baik (Good Mining Practice) dan terintegrasi secara nasional.

Author Kholis Muhsin Lubis