Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Indonesia memasuki puncak musim kemarau 2026. Tantangannya bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana memperoleh informasi yang cukup cepat dan detail untuk mengetahui lokasi, kondisi, serta perkembangan area yang berisiko terbakar.
Dalam kondisi tersebut, teknologi pemetaan udara berbasis Fixed-Wing VTOL dengan sensor modular dapat menjadi salah satu bagian dari strategi pemantauan area luas. Dengan pilihan sensor RGB, LiDAR, thermal, hingga kamera inspeksi, satu platform dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemetaan, monitoring, verifikasi, dan inspeksi lapangan.
Fakta dan Data Karhutla Indonesia 2026
Karhutla tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian yang hanya muncul di satu atau dua wilayah. Memasuki puncak musim kemarau 2026, BNPB melaporkan peningkatan risiko karhutla terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Pada 10 Agustus 2026, BNPB menyampaikan bahwa berdasarkan prakiraan BMKG, risiko karhutla diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026. Enam provinsi menjadi wilayah prioritas, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar yang tercatat di enam provinsi tersebut mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan terbesar, sekitar 28.680,47 hektare, disusul Riau sekitar 15.551,76 hektare.
Situasi tersebut juga terlihat dari pemantauan titik panas. Pada 20 Agustus, BNPB mencatat 1.487 hotspot di wilayah Kalimantan, terdiri dari 767 titik di Kalimantan Tengah, 560 titik di Kalimantan Barat, 74 titik di Kalimantan Selatan, 74 titik di Kalimantan Timur, dan 3 titik di Kalimantan Utara.
Namun, terdapat satu hal penting yang perlu dipahami:
Hotspot bukan berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran aktif.
Data hotspot dari satelit berfungsi sebagai indikasi awal yang kemudian perlu diverifikasi dengan informasi lapangan maupun metode pengamatan lainnya. Karena itu, tantangan berikutnya bukan hanya menemukan indikasi kebakaran, tetapi mendapatkan informasi spasial yang cukup detail untuk menentukan tindakan selanjutnya.
Ketika Area yang Dipantau Semakin Luas
Karhutla dapat berkembang pada area yang sangat luas, sementara akses menuju lokasi tidak selalu mudah.
Kondisi seperti:
- vegetasi rapat,
- lahan gambut,
- medan berbukit,
- area konsesi yang luas,
- kawasan hutan,
- keterbatasan akses jalan,
- serta perubahan arah angin,
dapat membuat pemantauan dan verifikasi secara langsung menjadi pekerjaan yang membutuhkan waktu dan sumber daya besar.
Kondisi medan juga menjadi faktor penting dalam penanganan. Pada kasus karhutla Gunung Bromo pada Agustus 2026, BNPB menyebut topografi yang berat, lereng terjal, kondisi angin, serta lokasi titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat sebagai beberapa kendala utama dalam pemadaman.
Di Kalimantan Barat, penanganan juga melibatkan kombinasi operasi darat, water bombing, patroli udara, dan Operasi Modifikasi Cuaca. BNPB melaporkan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk memperkuat upaya penanganan titik panas dan titik api yang masih berlangsung.
Hal ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan informasi spasial yang cepat, cakupan luas, dan dapat digunakan untuk mendukung keputusan di lapangan.
Dari Hotspot Menuju Data Spasial yang Bisa Ditindaklanjuti
Data satelit sangat penting untuk memberikan gambaran awal mengenai lokasi indikasi panas dan area yang berpotensi terdampak. Namun dalam banyak situasi, pengelola wilayah membutuhkan informasi yang lebih detail.
Misalnya:
- Di mana tepatnya area yang terdampak?
- Seberapa luas area yang terbakar?
- Bagaimana kondisi topografinya?
- Apakah masih terdapat anomali panas?
- Bagaimana akses menuju lokasi?
- Bagaimana perubahan kondisi area dari waktu ke waktu?
Di sinilah pemetaan udara dapat berperan sebagai lapisan informasi tambahan antara remote sensing skala luas dan verifikasi lapangan.
Fixed-Wing VTOL untuk Monitoring Area Luas
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah fixed-wing VTOL UAV.
Berbeda dengan multirotor yang umumnya mengandalkan hovering dan memiliki endurance lebih terbatas, fixed-wing memiliki karakteristik penerbangan yang lebih efisien untuk misi pemetaan area luas. Sementara konfigurasi VTOL memungkinkan drone melakukan take-off dan landing secara vertikal tanpa membutuhkan runway.
Untuk kebutuhan tersebut, Drone VTOL RAYBE dapat digunakan sebagai platform pemetaan udara untuk area menengah hingga besar.
RAYBE memiliki endurance hingga sekitar 50 minutes, jangkauan telemetri hingga 8 km, serta kemampuan cakupan hingga 300 hektare. Sistemnya menggunakan konfigurasi Fixed-Wing VTOL dan mendukung metode koreksi RTK/PPK.
Karakteristik ini membuat RAYBE relevan untuk misi seperti:
- pemetaan area rawan karhutla,
- monitoring perubahan tutupan lahan,
- pemetaan kondisi pascakebakaran,
- pemantauan kawasan perkebunan dan kehutanan,
- assessment area terdampak,
- hingga pengumpulan data spasial untuk perencanaan mitigasi.
Untuk kebutuhan area yang lebih luas dan misi dengan durasi lebih panjang, OMNIBE dari BETA-UAS menawarkan platform Fixed-Wing VTOL dengan endurance hingga 150 menit, payload hingga 2 kg, radius operasi hingga 60 km, serta sistem payload modular.
OMNIBE memang dirancang untuk kebutuhan industri seperti mapping, inspection, monitoring, dan surveillance, dengan konsep sensor yang dapat diganti sesuai kebutuhan misi.
Satu Platform, Berbagai Kebutuhan Sensor
Salah satu tantangan dalam membangun sistem pemantauan karhutla adalah kebutuhan data yang berbeda pada setiap tahapan.
Tidak semua misi membutuhkan sensor yang sama.
Karena itu, pendekatan dengan modular payload menjadi menarik.
1. RGB Camera — Pemetaan dan Dokumentasi Visual
Sensor RGB dapat digunakan untuk menghasilkan data visual dan fotogrametri.
Beberapa aplikasinya antara lain:
- orthophoto,
- pemetaan area terdampak,
- dokumentasi kondisi vegetasi,
- pemetaan akses dan infrastruktur,
- perbandingan kondisi sebelum dan sesudah kebakaran.
Data RGB memberikan gambaran visual yang mudah dipahami oleh tim operasional maupun pengambil keputusan.
2. LiDAR — Ketika Vegetasi Menjadi Tantangan
Pada kawasan dengan vegetasi rapat, data LiDAR dapat memberikan informasi elevasi dan struktur permukaan yang lebih detail dibandingkan hanya mengandalkan foto udara.
LiDAR dapat dimanfaatkan untuk:
- menghasilkan DSM dan DTM,
- memahami kondisi topografi,
- pemetaan kawasan berhutan,
- analisis akses menuju lokasi,
- pemetaan area terdampak,
- serta mendukung perencanaan mitigasi dan rehabilitasi.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika area yang dipantau memiliki vegetasi lebat dan kondisi medan kompleks.
3. Thermal — Melihat Anomali Panas
Dalam konteks karhutla, sensor thermal memiliki fungsi yang berbeda dari RGB.
RGB menjawab:
“Apa yang terlihat?”
Sedangkan thermal membantu menjawab:
“Di mana terdapat perbedaan temperatur atau anomali panas?”
Data thermal dapat membantu proses:
- verifikasi indikasi hotspot,
- pencarian area dengan anomali panas,
- pemeriksaan area pascakebakaran,
- identifikasi titik yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut,
- dan monitoring perubahan kondisi thermal.
Namun, data thermal tetap perlu diinterpretasikan berdasarkan kondisi lingkungan, waktu akuisisi, karakteristik permukaan, serta metode pengukuran. Thermal bukan pengganti seluruh proses verifikasi lapangan.
4. Inspection Camera — Ketika Detail Menjadi Prioritas
Pada kondisi tertentu, kebutuhan bukan lagi memetakan ratusan hektare, tetapi melakukan pemeriksaan detail terhadap objek atau lokasi tertentu.
Inspection camera dapat digunakan untuk:
- pemeriksaan infrastruktur,
- inspeksi jalur akses,
- pemantauan fasilitas,
- dokumentasi kondisi aset,
- serta pemeriksaan area yang sulit dijangkau secara langsung.
Dengan konsep sensor modular, satu platform UAV dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan misi tanpa harus membangun sistem drone yang berbeda untuk setiap pekerjaan.
Dari Pemetaan Menjadi Sistem Monitoring
Nilai utama teknologi UAV sebenarnya bukan hanya pada kemampuan terbang.
Nilainya muncul ketika data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan terukur.
Konsep implementasinya dapat dibangun seperti:
Satellite / Hotspot Data
↓
Risk Area Identification
↓
UAV Mapping & Verification
↓
RGB / LiDAR / Thermal Data
↓
Data Processing & Spatial Analysis
↓
Risk & Impact Map
↓
Field Verification
↓
Mitigation / Response
Dengan workflow tersebut, UAV tidak ditempatkan sebagai pengganti satelit atau tim lapangan. Sebaliknya, UAV menjadi jembatan antara informasi skala luas dan kebutuhan data detail di lapangan.
Apa Manfaatnya bagi Pengelola Kawasan?
Implementasi UAV fixed-wing VTOL dengan sensor yang sesuai dapat memberikan beberapa manfaat.
Cakupan Area Lebih Luas
Fixed-wing VTOL memungkinkan misi pemetaan dengan cakupan yang lebih besar dibandingkan pendekatan multirotor pada kondisi dan konfigurasi yang sesuai.
RAYBE tercatat memiliki kemampuan cakupan hingga 300 hektare, sedangkan OMNIBE menawarkan endurance hingga 150 menit untuk kebutuhan operasi area luas.
Mengurangi Ketergantungan pada Akses Darat
Pada area hutan, perkebunan, lahan gambut, atau medan sulit, data udara dapat membantu tim memperoleh gambaran awal tanpa harus langsung mengakses seluruh area secara fisik.
Mempercepat Assessment
Data RGB, LiDAR, dan thermal dapat dipilih berdasarkan kebutuhan sehingga proses assessment tidak hanya menghasilkan foto, tetapi juga data spasial yang dapat dianalisis.
Mendukung Safety
Pemantauan udara dapat membantu memberikan informasi awal mengenai kondisi area sebelum personel memasuki lokasi tertentu.
Mendukung Monitoring Berkala
Data UAV dapat dikumpulkan secara periodik sehingga perubahan kondisi wilayah dapat dibandingkan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, investasi tidak hanya digunakan saat terjadi kebakaran, tetapi dapat dimanfaatkan untuk pemetaan baseline, monitoring kawasan rawan, inspeksi, assessment, dan post-fire monitoring.
Berapa Investasi yang Dibutuhkan?
Investasi sistem UAV untuk kebutuhan monitoring karhutla tidak memiliki satu harga yang berlaku untuk seluruh organisasi.
Konfigurasi sangat bergantung pada:
- platform UAV,
- jenis sensor,
- kebutuhan akurasi,
- sistem GNSS/RTK/PPK,
- software processing,
- ground control,
- training operator,
- spare parts,
- serta kebutuhan integrasi data.
Sebagai gambaran awal, estimasi investasi sistem berada pada kisaran Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar, tergantung platform dan konfigurasi sensor yang dipilih.
Konfigurasi dengan RGB dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan pemetaan dan dokumentasi dasar. Sementara kebutuhan LiDAR, thermal, atau kombinasi beberapa sensor akan meningkatkan nilai investasi sesuai tingkat kemampuan sistem.
Karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan:
“Drone mana yang paling mahal?”
Tetapi:
“Data apa yang dibutuhkan, seberapa luas area yang harus dipantau, seberapa sering monitoring dilakukan, dan keputusan apa yang akan dibuat berdasarkan data tersebut?”
Investasi yang Dinilai dari Dampaknya
Untuk perusahaan perkebunan, kehutanan, pemegang konsesi, pengelola kawasan, maupun instansi pemerintah, investasi UAV sebaiknya tidak hanya dihitung dari harga perangkat.
Nilainya perlu dilihat dari total operational impact.
Misalnya:
- Waktu survey
- Jumlah personel
- Biaya mobilisasi
- Risiko akses lapangan
- Kecepatan memperoleh data
- Kualitas informasi untuk pengambilan keputusan
- Kemampuan melakukan monitoring berulang
Jika satu platform dapat digunakan untuk beberapa jenis pekerjaan, nilai investasinya juga menjadi lebih luas. RAYBE dan OMNIBE, dengan karakteristik Fixed-Wing VTOL dan opsi payload yang dapat disesuaikan, dapat diposisikan bukan hanya sebagai drone pemetaan, tetapi sebagai platform data acquisition untuk area luas.
Karhutla Membutuhkan Data Sebelum Api Membesar
- Karhutla bukan persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan satu teknologi.
- Satellite monitoring memberikan cakupan luas.
- UAV memberikan detail spasial.
- Sensor thermal membantu melihat indikasi anomali panas.
- LiDAR membantu memahami topografi dan kondisi permukaan.
- RGB memberikan konteks visual.
- Tim lapangan tetap menjadi bagian penting dalam verifikasi dan respons.
Karena itu, masa depan mitigasi karhutla bukan sekadar tentang mendeteksi api, tetapi membangun sistem yang mampu mengubah data menjadi tindakan:
Detect → Map → Verify → Monitor → Respond
Ketika area yang harus dipantau semakin luas dan akses lapangan semakin kompleks, kemampuan memperoleh data secara cepat dan terukur menjadi bagian penting dari strategi mitigasi. Bagi organisasi yang mengelola wilayah luas, pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah kita membutuhkan drone?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
“Seberapa cepat kita bisa mendapatkan informasi yang benar ketika kondisi di lapangan mulai berubah?”
Membangun Solusi Monitoring yang Sesuai Kebutuhan
PT GPS Lands Indosolutions menyediakan solusi pemetaan dan monitoring berbasis UAV, termasuk Drone VTOL RAYBE dan OMNIBE, dengan pilihan sensor dan workflow yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
Kami dapat membantu mulai dari pemilihan platform dan sensor, perencanaan misi, akuisisi data, processing, hingga penyusunan workflow pemanfaatan data untuk kebutuhan monitoring dan pengambilan keputusan.
Hubungi tim GPS Lands untuk mendiskusikan konfigurasi UAV dan sensor yang sesuai dengan luas area, karakteristik medan, serta kebutuhan monitoring Anda.ultasi awal dan menentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.